Kamis, 29 Agustus 2024

MENYIKAPI DISTRAKSI ARTIFICIAL INTELLIGENCE PADA GEN Z DALAM RANGKA MEWUJUDKAN KETAHANAN NASIONAL YANG KUAT

1. Judul. Menyikapi Distraksi Artificial Intelligence Pada Gen Z Dalam Rangka Mewujudkan Ketahanan Nasional Yang Kuat.

2. Variabel. Judul yang ditentukan oleh penulis terdiri dari tiga variabel utama yang akan dijadikan pedoman dalam mengidentifikasi pokok masalah, pokok persoalan, fakta-fakta, dan pokok pemecahan persoalan. Ketiga variabel tersebut antara lain:

a. Variabel dinamis/pokok bahasan (V1). Penguatan karakter Generasi Z merupakan pokok bahasan utama yang menjadi pokok persoalan untuk ditemukan solusinya.

b. Variabel statis/output antara (V2). Guna menghadapi distraksi artificial intelligence (AI) merupakan output antara yang memiliki korelasi langsung dengan pokok bahasan.

c. Variabel statis/outcome (V3). Dalam rangka mewujudkan ketahanan nasional yang kuat menjadi outcome sebagai hasil yang diharapkan dari penyelesaian persoalan pada pokok bahasan utama. Variabel ini memiliki korelasi tidak langsung dengan pokok bahasan dan output antara. Apabila penguatan karakter Generasi Z berhasil, maka distraksi AI dapat dihadapi selanjutnya akan berkontribusi pada ketahanan nasional yang kuat.

3. Pokok Masalah. Pokok masalah yang dibahas pada tulisan ini dapat diidentifikasi berdasarkan elaborasi ketiga variabel pada judul sehingga menjadi fokus pada bagaimana menguatkan karakter Generasi Z guna menghadapi distraksi AI dalam rangka mewujudkan ketahanan nasional yang kuat. Pokok masalah dapat diuraikan, sebagai berikut:

a. Ketahanan nasional yang kuat perlu diwujudkan. Ketahanan nasional yang kuat merupakan fondasi penting bagi suatu negara untuk menjaga integritas, identitas, dan kelangsungan hidup berbangsa dan bernegara. Konsep ini mencakup keuletan, ketangguhan, dan kemampuan untuk mengembangkan kekuatan dalam menghadapi berbagai ancaman, baik dari dalam maupun luar negeri. Ketahanan nasional tidak hanya terbatas pada aspek militer, tetapi juga mencakup aspek-aspek seperti ekonomi, sosial, budaya, dan politik yang harus dikelola secara terpadu dan harmonis. Dengan ketahanan nasional yang kuat, sebuah negara dapat mencapai tujuan nasionalnya, seperti yang tercantum dalam UUD 1945, serta meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran rakyatnya. Oleh sebab itu, setiap komponen bangsa, sesuai dengan keahlian dan kapasitasnya, harus berkontribusi dalam memperkuat ketahanan nasional.

b. Distraksi AI perlu dihadapi untuk mewujudkan ketahanan nasional yang kuat. Distraksi yang disebabkan oleh AI merupakan tantangan penting yang harus dihadapi untuk membangun ketahanan nasional, terutama dalam konteks Generasi Z. Generasi ini, yang lahir di era digital, sering kali terpapar pada berbagai bentuk teknologi canggih seperti AI, yang dapat mempengaruhi cara mereka berpikir dan bertindak. Penelitian menunjukkan bahwa AI dapat mengarahkan Generasi Z ke sikap individualisme dan kurangnya kepedulian terhadap lingkungan sosial mereka. Hal ini dapat mengurangi kemampuan mereka untuk berkontribusi secara efektif dalam membangun ketahanan nasional. Oleh sebab itu, penting untuk mengembangkan strategi yang dapat mengintegrasikan AI dalam pendidikan dan pembentukan karakter, sehingga Generasi Z dapat menggunakan teknologi ini dengan bijak dan bertanggung jawab. Dengan demikian, mereka akan menjadi generasi yang tangguh dan mampu menghadapi tantangan masa depan dengan ketahanan nasional yang kuat.

c. Penguatan karakter Generasi Z sebagai salah satu cara menghadapi distraksi AI dan mewujudkan ketahanan nasional yang kuat. Penguatan karakter Generasi Z merupakan langkah penting dalam menghadapi distraksi yang ditimbulkan oleh kemajuan AI. Dengan karakter yang kuat, Generasi Z dapat lebih kritis dan selektif dalam menggunakan teknologi, sehingga mampu memanfaatkannya untuk tujuan yang produktif dan konstruktif. Hal ini penting karena AI memiliki potensi untuk mengubah cara kita berinteraksi, bekerja, dan belajar. Pendidikan karakter yang efektif dapat membantu Generasi Z untuk mengembangkan keterampilan seperti empati, etika, dan tanggung jawab sosial, yang semuanya penting untuk mempertahankan kemanusiaan di tengah pesatnya perkembangan teknologi. Selain itu, penguatan karakter juga berperan dalam membangun ketahanan nasional. Generasi muda yang berdaya tahan akan membawa energi, visi, dan inovasi yang diperlukan untuk menghadapi tantangan ekonomi, sosial, budaya, dan teknologi di masa depan (Alfikri, 2023). Oleh karena itu, pendidikan karakter tidak hanya mempersiapkan individu untuk sukses secara pribadi tetapi juga memastikan bahwa mereka siap untuk berkontribusi terhadap kekuatan dan solidaritas bangsa.

4. Potret. Generasi Z, yang lahir antara tahun 1995 dan 2010, dikenal dengan beberapa karakteristik khas. Mereka adalah digital natives yang tumbuh di era internet, sehingga sangat akrab dengan teknologi dan media sosial. Karakteristik utama mereka termasuk kemampuan adaptasi yang tinggi, kecerdasan dalam memanfaatkan teknologi untuk berbagai keperluan, dan toleransi terhadap perbedaan budaya. Generasi ini juga memiliki pemikiran global, sering terhubung dan berjejaring di dunia virtual, serta memiliki kesadaran finansial yang baik sejak usia muda. Selain itu, mereka cenderung mandiri, ambisius, dan memiliki orientasi yang kuat terhadap pencapaian finansial. Meskipun demikian, mereka juga dikritik karena kurangnya fokus dan rentang perhatian yang pendek, serta kecenderungan untuk mengumbar privasi di media social (Salim, 2024).

Generasi Z dihadapkan pada masa yang serba tidak mudah. Berbagai kemajuan teknologi menuntun mereka pada sikap individualis dan acuh tak acuh terhadap sekitarnya. Teknologi mendistraksi rasa kemanusiaan Generasi Z dan menuntun mereka menjadi manusia yang tidak utuh (Sunggu, 2023). Tidak hanya itu, Generasi Z, yang juga dikenal sebagai Gen Z atau i-generation, memiliki karakteristik yang unik dan membedakannya dari generasi sebelumnya. Berikut beberapa potret atau fakta tentang karakter Generasi Z saat ini:

a. Terbiasa dengan teknologi. Generasi Z lahir dan tumbuh di era teknologi yang berkembang pesat. Mereka sangat akrab dengan internet, ponsel pintar, dan berbagai platform media social. Keterampilan mereka dalam mengoperasikan teknologi memungkinkan mereka untuk berkomunikasi, belajar, dan bekerja secara efisien (Mahar, 2022).

b. Fleksibel dan toleran pada perbedaan budaya. Generasi Z terhubung secara global dan berjejaring di dunia virtual. Mereka memiliki pemahaman yang lebih universal tentang teknologi dan toleransi terhadap perbedaan budaya.
 
c. Berkeinginan untuk berbagi pengetahuan. Teknologi yang semakin canggih memudahkan Generasi Z dalam berbagi informasi. Mereka aktif menyebarkan pengetahuan yang dimiliki melalui media sosial dan platform online lainnya (Amanda, 2019).

d. Mengutamakan kreativitas dan ambisi. Generasi Z memiliki ambisi besar untuk sukses. Mereka kreatif dan mampu memanfaatkan perubahan teknologi dalam kehidupan sehari-hari.

e. Memiliki pengetahuan finansial yang baik. Generasi Z menyadari pentingnya menabung dan investasi di masa depan. Mereka memiliki orientasi finansial yang jelas dan berhati-hati agar tidak terjebak dalam hutang .

f. Berperilaku instan dan menyukai hal yang detail. Generasi Z cenderung berperilaku instan dan menginginkan pengakuan. Mereka juga memiliki ketertarikan pada hal-hal yang detail dan mendalam.

g. Mengubah paradigma di dunia digital. Generasi Z memiliki potensi untuk mengubah iklim dunia kerja dan gaya hidup. Mereka akan memperluas kesenjangan dengan generasi sebelumnya dan membentuk lanskap sosial dan budaya di masa depan.

5. Pokok-pokok Persoalan. Pokok-pokok persoalan yang dibahas merupakan penyebab terjadinya kondisi karakter Generasi Z saat ini, antara lain:

a. Ketergantungan pada teknologi. Generasi Z tumbuh dengan teknologi yang sangat canggih dan terhubung secara digital. Mereka cenderung menghabiskan banyak waktu di perangkat gawai mereka, termasuk interaksi dengan AI. Ketergantungan ini dapat mengganggu keseimbangan antara dunia maya dan dunia nyata.

b. Kurangnya keterampilan kritis. Meskipun terbiasa dengan teknologi, Generasi Z kurang mengembangkan keterampilan kritis dalam mengelola informasi yang diberikan oleh AI. Mereka kurang mempertanyakan kebenaran atau relevansi informasi yang diberikan oleh algoritma tersebut.

c. Distraksi dan produktivitas. AI dapat menjadi sumber distraksi bagi Generasi
Z. Dari media sosial hingga aplikasi berbasis AI, banyak hal yang dapat mengalihkan perhatian mereka dari tugas-tugas produktif atau interaksi sosial yang lebih bermakna.

d. Etika dan privasi. Generasi Z perlu memahami etika penggunaan teknologi dan privasi. AI dapat mengumpulkan data pribadi mereka, dan pemahaman tentang bagaimana data ini digunakan dan dilindungi adalah penting.

e. Kehilangan empati dan interaksi manusia. Terlalu banyak mengandalkan AI dapat mengurangi kemampuan Generasi Z untuk berempati dan berinteraksi dengan manusia secara langsung. Hal ini dapat memengaruhi hubungan sosial dan kesejahteraan mental mereka.

6. Pokok-pokok Pemecahan Persoalan. Pokok-pokok pemecahan persoalan merupakan penyelesaian pokok-pokok persoalan yang telah diidentifikasi dan diuraikan dalam bentuk deskripsi mengenai kebijakan, strategi, dan upaya yang dilaksanakan. Kebijakan, strategi, dan upaya tersebut antara lain:

a. Kebijakan. Rumusan kebijakan disusun berdasarkan pokok-pokok persoalan yang telah diformulasikan dalam judul. Rumusan kebijakan adalah Terwujudnya penguatan karakter Generasi Z melalui pengembangan kemandirian dan pengaturan waktu, peningkatan keterampilan kritis, peningkatan kesadaran etika dan privasi, mengatur keseimbangan hidup dan produktivitas, serta pengembalian empati dan interaksi manusia.

b. Strategi. Rumusan strategi guna menyukseskan kebijakan tersebut antara lain:

1) Strategi pertama. Mengembangkan kemandirian dan pengaturan waktu yang bertujuan menghindari dampak negatif dari teknologi dan menggunakan alat digital secara efektif untuk mencapai tujuan.
 
2) Strategi kedua. Meningkatkan keterampilan kritis bertujuan untuk waspada dan selalu menyaring kebenaran dan relevansi informasi yang diperoleh dari AI maupun media digital lainnya.

3) Strategi ketiga. Meningkatkan kesadaran etika dan privasi bertujuan untuk memahami pentingnya etika dalam penggunaan teknologi, memahami risiko privasi dan bertanggung jawab dalam interaksi digital.

4) Strategi keempat. Mengatur keseimbangan hidup dan produktivitas bertujuan untuk menerapkan kebiasaan kerja yang efisien dan mengatur waktu dengan bijaksana dapat membantu mereka tetap fokus dan produktif.

5) Strategi kelima. Mengembalikan empati dan interaksi manusia bertujuan agar manusia tetap dapat menjadi manusia seutuhnya dengan berinisiatif melibatkan diri dalam kegiatan sosial dan membangun hubungan sosial dengan orang lain.

c. Upaya. Upaya atau langkah nyata yang dapat dilakukan guna melaksanakan strategi tersebut, antara lain:

1) Upaya melaksanakan strategi pertama. Upaya yang dapat dilakukan antara lain:

a) Pemerintah memberikan edukasi dan literasi mengenai pengembangan kemandirian dan pengaturan waktu kepada Generasi Z.

b) Generasi Z mengatur waktu penggunaan perangkat digital secara mandiri dengan aplikasi yang tersedia di perangkat. Selain itu, juga perlu menyadari dampak negative dari kecanduan teknologi.

2) Upaya melaksanakan strategi kedua. Upaya yang dapat dilakukan antara lain:

a) Pemerintah memberikan edukasi dan literasi mengenai peningkatan keterampilan kritis kepada Generasi Z.
 
b) Generasi Z memverifikasi sumber informasi dan menghindari menyebarkan informasi dari sumber yang tidak terpercaya.

3) Upaya melaksanakan strategi ketiga. Upaya yang dapat dilakukan antara lain:

a) Pemerintah memberikan edukasi dan literasi mengenai peningkatan kesadaran etika dan privasi kepada Generasi Z.

b) Generasi Z menjaga privasinya dan menghormati privasi orang lain terutama data pribadi yang ada di dunia maya.

4) Upaya melaksanakan strategi keempat. Upaya yang dapat dilakukan antara lain:

a) Pemerintah memberikan edukasi dan literasi tentang mengatur keseimbangan hidup dan produktivitas kepada Generasi Z.

b) Generasi Z dapat membatasi dirinya untuk mengunjungi situs penyebab distraksi dan memanfaatkan AI untuk mengelola tugas sehari- hari.

5) Upaya melaksanakan strategi kelima. Upaya yang dapat dilakukan antara lain:

a) Pemerintah memberikan edukasi dan literasi tentang berempati dan berinteraksi antar sesama manusia kepada Generasi Z.

b) Generasi Z dapat memupuk empati dengan cara memberikan sedekah yang rutin kepada orang yang membutuhkan. Berinteraksi dengan sesame manusia dengan aktif mengikuti organisasi sekolah maupun kemasyarakatan.

7. Penutup. Berdasarkan pembahasan terhadap pokok-pokok persoalan, dapat diperoleh kesimpulan dan saran.
 
a. Kesimpulan. Berdasarkan uraian persoalan dan pemecahan persoalan, dapat diambil kesimpulan antara lain:

1) Karakter Generasi Z perlu diperkuat guna menghadapi distraksi AI dalam rangka mewujudkan ketahanan nasional yang kuat. Persoalan karakter Generasi Z yang sudah terindikasi antara lain ketergantungan pada teknologi, kurangnya keterampilan kritis, distraksi dan produktivitas, etika dan privasi, kehilangan empati dan interaksi manusia.

2) Kebijakan, strategi, dan upaya penguatan karakter Generasi Z merujuk pada terwujudnya penguatan karakter Generasi Z melalui pengembangan kemandirian dan pengaturan waktu, peningkatan keterampilan kritis, peningkatan kesadaran etika dan privasi, mengatur keseimbangan hidup dan produktivitas, serta pengembalian empati dan interaksi manusia.

3) Penguatan karakter Generasi Z membutuhkan partisipasi dari pemerintah dan Generasi Z itu sendiri dalam menjalankan kebijakan, strategi dan upaya- upaya yang telah ditentukan.

b. Saran. Saran yang dapat disampaikan adalah mengintegrasikan AI pada infrastruktur sekolah dan infrastruktur umum di masyarakat sehingga memungkinkan terjadi kolaborasi antara Generasi Z dengan generasi sebelumnya. Generasi Z dapat belajar dari pengalaman orang tua dan menggabungkan wawasan yang berbeda. Hal ini dapat memperkuat karakter Generasi Z dalam menghadapi perubahan teknologi.


MEMAHAMI PELUANG DAN MENYIKAPI TANTANGAN IMPLEMENTASI ARTIFICIAL INTELLIGENCE (AI) DI SEKTOR PERTAHANAN

MEMAHAMI PELUANG DAN MENYIKAPI TANTANGAN IMPLEMENTASI ARTIFICIAL INTELLIGENCE (AI) DI SEKTOR PERTAHANAN


1.         Judul. Memahami Peluang dan Menyikapi Tantangan Implementasi Artificial Intelligence (AI) di Sektor Pertahanan.

 

2.         Latar Belakang. Perang dan teknologi selalu berkembang beriringan sepanjang sejarah. Konflik bersenjata seringkali memicu inovasi dan kemajuan teknologi yang signifikan. Dari penemuan mesiu hingga pengembangan roket, teknologi militer telah berperan penting dalam menentukan hasil dari peperangan. Sejarah telah menunjukkan bahwa negara-negara yang mampu menguasai teknologi tercanggih sering kali mendapat keunggulan strategis dalam konflik. Dalam era modern saat ini, kecerdasan buatan yang dikenal dengan istilah artificial intelligence (AI) telah menjadi faktor penting dalam konteks militer. AI menawarkan kemampuan untuk memproses dan menganalisis data dalam jumlah besar dengan cepat dan akurat, yang sangat berharga dalam situasi yang kompleks dan berisiko tinggi. Penggunaan AI dalam militer mencakup berbagai aspek, mulai dari analisis data, pengintaian, penargetan, navigasi, hingga pengoperasian senjata otonom. Manfaat AI dalam dunia militer sangat luas, termasuk mendukung persenjataan, meningkatkan keamanan siber, dan bahkan kebutuhan medis. AI dapat meningkatkan efisiensi, presisi, dan efektivitas operasi militer, serta mengurangi risiko bagi personel militer dengan otomatisasi tugas-tugas tertentu. Namun, penggunaan AI juga menimbulkan pertanyaan etis dan hukum yang penting, seperti tanggung jawab dalam pengambilan keputusan dan nilai kehidupan manusia. Indonesia, sebagai contoh, telah menyoroti pentingnya regulasi pemanfaatan AI dalam persenjataan, mengingat potensi dampaknya terhadap hukum, etika, dan masyarakat.

Sejalan dengan pentingnya regulasi pemanfaatan AI, Presiden Republik Indonesia, Bapak Joko Widodo telah menekankan pentingnya transformasi digital, termasuk dalam sektor pertahanan, dengan lima program utama yang diumumkan pada Agustus 2020. Program-program tersebut meliputi perluasan akses digital, pengembangan roadmap transformasi digital di sektor strategis, percepatan integrasi pusat data nasional, persiapan SDM talenta digital, dan pembuatan regulasi terkait pendanaan transformasi digital. Pengembangan dan implementasi AI dalam militer di Indonesia juga harus dilaksanakan dengan pertimbangan yang matang, memastikan bahwa penggunaannya sesuai dengan norma-norma internasional dan etika perang. Salah satu instansi militer di Indonesia yaitu TNI AU menghadapi tantangan dan peluang yang besar dalam mengimplementasikan AI untuk meningkatkan kapabilitas pertahanan negara. Tantangan yang dihadapi TNI AU bersumber dari minimnya kesiapan sumber daya manusia yang terampil menggunakan AI, belum adanya regulasi yang mengatur penggunaan AI secara etis dan bertanggung jawab, infrastruktur komputasi dan data yang belum memadai, serta kurangnya kesiapan organisasi dalam mengadopsi inovasi AI di lingkungan TNI AU. Di sisi lain, terdapat peluang implementasi AI yang sangat berdampak bagi TNI AU antara lain mendukung pengembangan sumber daya manusia, meningkatkan efisiensi dan produktivitas, mendukung inovasi dan modernisasi peralatan dan strategi militer, serta menawarkan solusi infrastruktur.

Menindaklanjuti hal tersebut, dalam rangka menyikapi tantangan dan memanfaatkan peluang implementasi AI di sektor pertahanan, TNI AU dipandang perlu menyusun strategi. Aspek manajemen man, machine, methode, money, dan material (5M) menjadi hal yang krusial untuk ditinjau dalam penyusunan strategi tersebut. Isu-isu dalam strategi dari negara lain baik global maupun regional juga harus diperhitungkan dalam penyusunan strategi. Sementara itu, TNI AU juga harus mempertimbangkan dan menyelaraskan misi-misi kecerdasan artifisialnya dengan menelaah area-area fokus dan bidang-bidang prioritas yang tepat. Hasil pembahasan tentang 5M, isu-isu penting, dan misi AI diharapkan mampu menjawab rumusan masalah bagaimana strategi TNI AU dalam menyikapi tantangan dan memanfaatkan peluang implementasi artificial intelligence (AI) di sektor pertahanan.

 

3.         Rumusan Masalah. Mengacu pada latar belakang adanya hubungan kasual antara perang dan teknologi serta pentingya AI dalam konteks militer modern yang ditandai dengan perkembangan teknologi AI dan penerapan AI di militer global, maka dapat disusun rumusan masalah yaitu bagaimana strategi TNI AU dalam menyikapi tantangan dan memanfaatkan peluang implementasi artificial intelligence (AI) di sektor pertahanan. Dirumuskan tiga pertanyaan kajian yang akan dibahas pada penelitian ini, antara lain

 

a.         Bagaimana AI berkembang dan diterapkan dalam bidang militer global?

 

b.         Bagaimana peluang dan tantangan implementasi AI di sektor pertahanan khususnya bagi TNI AU?

c.         Bagaimana TNI AU menyikapi tantangan dan memanfaatkan peluang implementasi AI di sektor pertahanan?

 

4.         Kerangka Teoritis. Teori-teori yang digunakan sebagai landasan analisis pada penulisan kertas karya acuan ini, antara lain:

 

a.         UU RI Nomor 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara. Pada pasal 20 ayat 2 UU No. 3/2002 disebutkan bahwa segala sumber daya nasional yang berupa sumber daya manusia, sumber daya alam dan buatan, nilai-nilai, teknologi, dan dana dapat didayagunakan untuk meningkatkan kemampuan pertahanan negara yang diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Mengacu pada ketentuan tersebut, maka konsep sinergitas TNI-Polri berupaya untuk merancang pengelolaan berbagai sumber daya yang dapat dilaksanakan oleh TNI terkait pembinaan potensi kedirgantaraan yang membutuhkan keterlibatan pemerintah RI khususnya dalam desain organisasi dan penyediaan sumber daya nasional..

 

b.         Teori Empat Faktor menurut Lawrence Lessig. Teori ini dikenal sebagai teori titik menyedihkan (Pathetic Dot Theory), adalah teori sosioekonomi tentang regulasi. Teori ini membahas bagaimana kehidupan individu diatur oleh empat kekuatan yaitu hukum (the law), norma sosial (social norms), pasar (the market), dan arsitektur (architecture) (Schrepel, 2022). Faktor hukum mengatur perilaku kita dengan ancaman sanksi jika tidak dipatuhi. Faktor norma sosial menyatakan bahwa norma sosial dan etika harus ditegakkan oleh masyarakat sebagai kekuatan untuk memaksa orang bertindak dengan cara tertentu. Faktor pasar erat kaitannya dengan perekonomian dan biaya yang membatasi perilaku individu melalui harga. Sesuatu yang murah cenderung dilakukan, dan apa yang mahal cenderung memiliki akses terbatas. Faktor keempat merupakan arsitektur yang mengatur dengan cara menempatkan penghalang dan jalur di jalan seseorang.

 

c.         Teori Manajemen menurut Harrington Emerson. Teori manajemen menurut Harrington Emerson, seperti yang dijelaskan dalam karya Phiffner John F. dan Presthus Robert V. pada tahun 1960, merujuk pada konsep manajemen yang dikenal sebagai model 5M antara lain Men atau Manusia, Money atau Uang, Materials atau Bahan, Machines atau Mesin, dan Methodes atau Metode (Kesmas, 2013). Manusia merupakan unsur mutlak dan yang terpenting dalam manajemen. Sebagai sumber tenaga kerja utama, manajemen tidak akan berjalan tanpanya. Uang adalah sarana terpenting setelah manusia. Dalam kegiatannya, dapat dipastikan mereka membutuhkan uang. Bahan-bahan juga penting dalam manajemen. Bahan-bahan itu dapat berupa bahan mentah, bahan setengah jadi maupun bahan jadi. Penggunaan mesin semakin meningkat seiring dengan kemajuan teknologi. Penggunaan mesin biasanya dilakukan untuk mencapai efisiensi kerja. Metode adalah cara pelaksanaan kerja. Metode kerja yang baik adalah yang sederhana, mudah, dan dapat mempercepat penyelesaian pekerjaan.

 

5.         Pembahasan. Pembahasan ini akan menganalisis fenomena yang dikemukakan pada latar belakang dengan menggunakan kerangka teoritis yang bertujuan untuk mendapatkan jawaban dari rumusan masalah dan pertanyaan-pertanyaan kajian.

 

a.         Perkembangan dan penerapan AI dalam bidang militer global. Artificial Intelligence (AI), atau kecerdasan buatan dalam Bahasa Indonesia, adalah simulasi kecerdasan manusia yang diterapkan ke dalam sistem komputer atau perangkat mesin lain. Tujuan utama dari AI adalah untuk menciptakan teknologi yang mampu meniru aktivitas kognitif manusia, seperti belajar, melakukan penalaran, mengambil keputusan, dan mengoreksi diri. AI dapat melakukan setidaknya satu di antara empat hal antara lain acting humanly yaitu sistem dapat bertindak seperti manusia,  thinking humanly yaitu sistem bisa berpikir layaknya manusia, thinking rationall yaitu sistem mampu berpikir secara rasional, atau acting rationally yaitu sistem sanggup bertindak dengan rasional. AI telah mengalami perkembangan dan banyak diaplikasikan di berbagai bidang, salah satunya bidang militer guna meningkatkan efisiensi, akurasi, dan keamanan operasi militer. Dunia militer global sedang mengalami transformasi besar dengan integrasi kecerdasan buatan (AI) dalam berbagai aspek operasional. Negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Tiongkok, Rusia, Israel, dan lainnya telah memimpin dalam penerapan teknologi ini untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi kekuatan bersenjata mereka. Penerapan AI di sektor militer diintegrasikan pada Warfare Systems, Strategic Decision Making, Data Processing & Research, Combat Simulation, Target Recognition, Threat Monitoring, Drone Swarms, Cybersecurity, Transportation and Causalty Care & Evacuation (Dwipratama, 2024). Integrasi tersebut akan memainkan peran yang sangat penting dalam kerangka kerja Command, Control, Comunications, Computer, Intelligence, Surveillance and Reconnaissance (C4ISR) dalam paradigma Network Centric Warfare (NCW).

Amerika Serikat, sebagai contoh, telah mengadopsi AI dalam berbagai aplikasi militer, mulai dari sistem logistik yang otomatis hingga platform pertempuran yang canggih. Inisiatif seperti Project Maven, yang menggunakan AI untuk menginterpretasikan video secara real-time, telah menunjukkan potensi AI dalam meningkatkan kesadaran situasional dan kecepatan pengambilan keputusan di medan perang (Choudhury, 2024). Tiongkok mengintegrasikan AI ke dalam militer dan mengerjakan AI otonom yang mampu menghitung muatan amunisi, memprioritaskan dan menetapkan ribuan target, serta mengusulkan jadwal penerbangan. Tiongkok juga menggunakan teknologi AI untuk memperluas pengaruhnya secara ekonomi dan geopolitik melalui Strategi Digital Silk Road (E-Tan, 2022). Rusia fokus mengintegrasikan AI dengan teknologi militer melalui pengembangan Disrupting Command and Control Systems guna mengganggu dan menghancurkan sistem komando dan kontrol, serta kemampuan komunikasi musuh (Bendett et al., 2021). Israel pun tidak ketinggalan mengintegrasikan AI dalam teknologi militernya yaitu teknologi yang mampu mengerahkan kawanan drone untuk mengidentifikasi personel dan objek sasaran sebelum menyerang target (AFP, 2024).

Pemanfaatan AI dalam bidang militer oleh negara-negara tersebut menunjukkan pergeseran paradigma dalam strategi pertahanan dan keamanan. AI tidak hanya meningkatkan kemampuan operasional tetapi juga menimbulkan pertanyaan etis dan hukum yang kompleks. Penting bagi komunitas internasional untuk bekerja sama dalam mengembangkan kerangka kerja untuk penggunaan AI yang bertanggung jawab dan etis dalam konteks militer. AI telah menjadi bagian integral dari strategi militer global, dan negara-negara maju terus mendorong batas-batas teknologi ini. Namun, dengan kemajuan ini, muncul tanggung jawab untuk memastikan bahwa AI digunakan dengan cara yang memperkuat stabilitas global dan mematuhi hukum internasional. Dialog dan kerja sama internasional akan menjadi kunci untuk mencapai keseimbangan antara inovasi dan tanggung jawab dalam era AI militer yang baru ini.

 

b.         Peluang dan tantangan implementasi AI di sektor pertahanan khususnya bagi TNI AU.

 

1)        Peluang. Peluang implementasi AI yang dibahas pada tulisan ini, antara lain:

 

a)        Mendukung pengembangan sumber daya manusia. Penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam mendukung pengembangan sumber daya manusia di sektor pertahanan, khususnya bagi TNI AU, menawarkan berbagai peluang inovatif. AI dapat digunakan untuk melatih dan meningkatkan keterampilan analitis dan strategis personel melalui simulasi yang kompleks dan realistis. Dengan AI, TNI AU dapat mengembangkan program pelatihan yang disesuaikan dengan kebutuhan individu, memungkinkan pembelajaran yang lebih efisien dan efektif. Selain itu, AI juga dapat membantu dalam pengambilan keputusan strategis dengan menyediakan analisis data yang cepat dan akurat, yang sangat penting dalam operasi militer. Dengan demikian, integrasi AI dalam pengembangan sumber daya manusia tidak hanya akan meningkatkan kemampuan individu, tetapi juga akan memperkuat kapabilitas keseluruhan TNI AU dalam menjaga kedaulatan negara.

 

b)        Meningkatkan efisiensi dan produktivitas. Penerapan AI di sektor pertahanan, khususnya bagi TNI AU, memiliki potensi besar untuk meningkatkan efisiensi operasional dan produktivitas. AI dapat digunakan untuk mengoptimalkan perencanaan misi, dengan memanfaatkan data historis dan simulasi untuk meramalkan hasil yang paling efektif. Dalam pelatihan, AI bisa membantu dalam pengembangan simulator yang canggih, memungkinkan pilot untuk mengalami berbagai skenario tanpa risiko yang tinggi. Pemeliharaan pesawat juga dapat ditingkatkan melalui prediksi kebutuhan perawatan menggunakan AI, sehingga mengurangi waktu tunggu dan biaya operasional. Selain itu, AI dapat mendukung analisis intelijen dengan cepat mengidentifikasi pola dari data yang besar, mempercepat pengambilan keputusan strategis. Dengan demikian, integrasi AI dalam berbagai aspek operasional TNI AU dapat membawa transformasi signifikan dalam mencapai efisiensi dan produktivitas yang lebih tinggi.

 

c)         Mendukung inovasi dan modernisasi peralatan dan strategi militer. Penerapan kecerdasan buatan (AI) dalam sektor pertahanan, khususnya bagi TNI AU, menawarkan berbagai peluang inovatif yang dapat mengubah paradigma keamanan nasional. AI dapat memperkuat kemampuan analisis data intelijen, meningkatkan akurasi sistem penginderaan dan pengawasan, serta mempercepat proses pengambilan keputusan dalam situasi kritis. Dengan integrasi AI, TNI AU dapat mengembangkan peralatan militer yang lebih canggih, seperti drone otonom untuk misi pengintaian dan serangan presisi, serta sistem pertahanan siber untuk melindungi infrastruktur kritikal. Selain itu, AI juga dapat mendukung pelatihan simulasi yang realistis untuk meningkatkan kesiapan dan kemampuan taktis personel. Modernisasi strategi militer dengan AI ini tidak hanya meningkatkan efektivitas operasional tetapi juga memastikan bahwa TNI AU tetap relevan dalam menghadapi tantangan keamanan di era digital.

 

d)        Menawarkan solusi infrastruktur. Dalam konteks TNI AU, penerapan AI dapat memberikan solusi inovatif untuk infrastruktur dengan biaya yang efisien. Misalnya, AI dapat digunakan untuk mengoptimalkan penggunaan sumber daya, memprediksi kebutuhan pemeliharaan, dan meningkatkan efisiensi logistik. Dengan demikian, penghematan biaya dapat dialokasikan untuk pengembangan sumber daya manusia, seperti pelatihan dan pendidikan. AI juga dapat membantu dalam merancang kurikulum yang adaptif dan personalisasi pembelajaran untuk meningkatkan kualitas pendidikan di TNI AU. Selain itu, AI dapat memfasilitasi simulasi dan permainan perang untuk melatih taktik dan strategi tanpa risiko nyata, sehingga memperkaya pengalaman belajar dan mempersiapkan personel dengan lebih baik untuk situasi nyata. Dengan pendekatan ini, TNI AU dapat membangun fondasi yang kuat untuk masa depan pertahanan yang cerdas dan tangguh.

 

2)        Tantangan. Tantangan implementasi AI yang dibahas pada tulisan ini, antara lain:

 

a)        Minimnya kesiapan sumber daya manusia yang terampil menggunakan AI. Minimnya kesiapan sumber daya manusia yang terampil dalam menggunakan AI menjadi salah satu tantangan utama dalam implementasi teknologi ini di berbagai sektor, termasuk pertahanan. Hal ini tidak hanya berdampak pada efektivitas penerapan AI, tetapi juga pada keamanan dan keberlanjutan operasional. Untuk mengatasi tantangan ini, diperlukan investasi yang signifikan dalam pendidikan dan pelatihan, pengembangan kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan industri, serta pembangunan ekosistem yang mendukung inovasi dan kolaborasi antara akademisi, industri, dan institusi pemerintah. Selain itu, penting juga untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya literasi digital dan AI di kalangan anggota TNI AU, sehingga mereka dapat memanfaatkan teknologi ini secara maksimal untuk mendukung tugas-tugas pertahanan negara. Dengan demikian, kesiapan sumber daya manusia yang terampil dalam AI dapat terwujud, yang pada akhirnya akan meningkatkan kemampuan pertahanan nasional di era digital ini.

 

b)        Kurangnya kesiapan organisasi dalam mengadopsi inovasi AI di lingkungan TNI AU. Kesiapan organisasi dalam mengadopsi inovasi AI di lingkungan TNI AU merupakan tantangan yang kompleks. Hal ini tidak hanya melibatkan aspek teknologi, tetapi juga perubahan budaya organisasi, kebijakan, dan proses pelatihan. Untuk mengintegrasikan AI secara efektif, TNI AU perlu membangun infrastruktur data yang solid, mengembangkan kebijakan yang mendukung inovasi, dan memastikan bahwa personelnya memiliki keahlian yang diperlukan untuk bekerja bersama sistem AI. Selain itu, penting untuk mempertimbangkan etika dan hukum dalam penggunaan AI, memastikan bahwa penggunaannya sesuai dengan standar internasional dan tidak melanggar hak asasi manusia. Dengan pendekatan yang terstruktur dan komprehensif, TNI AU dapat mengatasi tantangan ini dan memanfaatkan kekuatan AI untuk meningkatkan kemampuan pertahanan nasional.

 

c)         Belum adanya regulasi yang mengatur penggunaan AI secara etis dan bertanggung jawab. Penggunaan AI di sektor pertahanan memang menawarkan potensi yang besar, tapi juga menghadapi tantangan etis dan regulasi yang signifikan. Salah satu tantangan utama adalah kurangnya kerangka kerja hukum yang jelas yang mengatur penggunaan AI, khususnya dalam konteks militer. Tanpa regulasi yang memadai, ada risiko bahwa AI dapat digunakan dengan cara yang tidak etis atau bertentangan dengan hukum internasional. Hal ini menuntut pembuatan kebijakan yang komprehensif yang tidak hanya mengatur aspek teknis penggunaan AI, tetapi juga mempertimbangkan implikasi etis dan tanggung jawab moral. Regulasi tersebut harus mampu menjamin bahwa penggunaan AI di sektor pertahanan dilakukan dengan transparansi, akuntabilitas, dan sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan. Dengan demikian, penting bagi pembuat kebijakan untuk bekerja sama dengan ahli teknologi, etik, dan hukum untuk mengembangkan standar yang akan mengarahkan penggunaan AI di sektor pertahanan ke arah yang bertanggung jawab dan berkelanjutan.

 

d)        Infrastruktur komputasi dan data yang belum memadai. Infrastruktur komputasi dan data yang belum memadai merupakan salah satu hambatan utama dalam implementasi AI di sektor pertahanan, khususnya bagi TNI AU. Keterbatasan ini tidak hanya mempengaruhi kapasitas pengolahan data yang besar dan kompleks, yang esensial untuk operasi AI, tetapi juga berdampak pada kecepatan dan efisiensi dalam pengambilan keputusan strategis. Untuk mengatasi tantangan ini, diperlukan investasi yang signifikan dalam pembangunan dan peningkatan infrastruktur teknologi informasi. Hal ini mencakup penambahan sumber daya komputasi, penyimpanan data yang aman dan terlindungi, serta jaringan yang mampu mendukung pertukaran informasi dengan cepat dan andal. Selain itu, pengembangan sumber daya manusia yang memiliki keahlian dalam bidang AI dan analisis data juga menjadi kunci untuk memaksimalkan potensi AI dalam mendukung tugas-tugas TNI AU. Dengan demikian, pembangunan infrastruktur yang memadai akan membuka jalan bagi integrasi AI yang efektif, sehingga meningkatkan kemampuan pertahanan nasional.

 

c.         Menyikapi tantangan dan memanfaatkan peluang implementasi AI di sektor pertahanan khususnya TNI AU. Pada tulisan ini, pembahasan tentang strategi menyikapi tantangan dan memanfaatkan peluang implementasi AI di sektor pertahanan dititikberatkan lima aspek manajemen atau 5M yang dikemukakan oleh Harrington Emerson.

Mengacu teori empat faktor Lawrence Lessig, bahwa kehidupan individu diatur oleh empat kekuatan yaitu hukum (the law), norma sosial (social norms), pasar (the market), dan arsitektur (architecture). Teori ini juga revelan diterapkan pada operasional sebuah organisasi seperti halnya TNI AU dalam menyikapi tantangan dan memanfaatkan peluang implementasi AI di sektor pertahanan. Pertama, faktor hukum, TNI AU harus mematuhi hukum dan regulasi yang berlaku terkait penggunaan AI, baik di tingkat internasional maupun nasional. Kedua, penggunaan AI oleh TNI AU harus selaras dengan norma sosial dan etika, termasuk menghormati hak asasi manusia serta menjaga privasi dan keamanan data. Ketiga, faktor ekonomi, TNI AU perlu mempertimbangkan biaya pengembangan dan pemeliharaan AI, serta potensi penghematan dan efisiensi yang dapat diperoleh. Keempat, infrastruktur teknologi dan sistem yang digunakan oleh TNI AU akan memengaruhi implementasi dan penggunaan AI secara efektif. Berdasarkan pembahasan singkat terhadap keempat faktor tersebut, faktor hukum dan norma sosial etika merupakan faktor krusial yang harus menjadi perhatian utama bagi TNI AU dalam menyikapi tantangan dan memanfaatkan peluang implementasi AI di sektor pertahanan.

Guna mempertajam pembahasan tentang strategi TNI AU dalam menyikapi tantangan dan memanfaatkan peluang implementasi AI di sektor pertahanan, lima aspek manajemen (5M) dapat menjadi bahan kajian yang menarik. Kelima aspek tersebut antara lain Men atau Manusia, Money atau Uang, Materials atau Bahan, Machines atau Mesin, dan Methodes atau Metode. Pembahasan kelima aspek manajemen dapat djelaskan sebagai berikut:

 

1)        Men atau Manusia. Dalam menghadapi era digitalisasi dan pertahanan modern, TNI AU menghadapi tantangan signifikan dalam mengintegrasikan AI ke dalam sistemnya. Keterbatasan kesiapan sumber daya manusia yang terampil dalam AI menjadi penghambat utama. Tanpa pengetahuan dan keterampilan yang memadai, implementasi teknologi AI dapat mengalami hambatan, seperti kesalahan pengoperasian yang berpotensi merugikan atau kegagalan dalam memanfaatkan sepenuhnya kemampuan AI. Untuk mengatasi hal ini, TNI AU harus mengadopsi strategi komprehensif yang mencakup pelatihan intensif bagi personelnya, memastikan mereka dilengkapi dengan pemahaman mendalam tentang AI dan kemampuannya. Selain itu, perekrutan tenaga kerja yang memiliki keahlian khusus dalam AI adalah langkah penting untuk memperkuat tim dan mempercepat integrasi AI. Upaya ini tidak hanya akan meningkatkan efisiensi operasional tetapi juga memastikan bahwa TNI AU tetap relevan dan kompetitif di panggung global pertahanan. Dengan demikian, TNI AU tidak hanya meningkatkan kapabilitas pertahanannya, tetapi juga memastikan bahwa personelnya siap menghadapi tantangan masa depan dengan keahlian yang relevan dan terkini.

 

2)        Money atau Uang. Implementasi AI dalam manajemen militer, khususnya di TNI AU, memang memerlukan investasi yang signifikan. Namun, potensi pengembalian investasi tersebut sangatlah besar. Tantangan infrastruktur komputasi dan data yang belum memadai dapat menimbulkan hambatan dalam pengembangan dan implementasi teknologi AI. Hal ini tidak hanya berdampak pada penundaan dalam peningkatan efisiensi operasional, tetapi juga dapat mengakibatkan biaya tambahan yang tidak diantisipasi. Untuk mengatasi tantangan ini, TNI AU dapat memulai dengan melakukan audit infrastruktur TI yang ada, mengevaluasi kebutuhan sistem yang akan datang, dan merencanakan peningkatan bertahap. Selain itu, kolaborasi dengan lembaga riset dan universitas dapat membantu dalam pengembangan solusi AI yang inovatif dan efisien biaya. Dengan pendekatan yang terstruktur dan investasi yang bijaksana, TNI AU dapat mengurangi dampak negatif dari tantangan infrastruktur dan memanfaatkan sepenuhnya keuntungan yang ditawarkan oleh AI untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas operasional.

 

3)        Materials atau Bahan. Dalam konteks TNI AU, bahan atau data merupakan aset kritikal dalam pengembangan dan operasionalisasi sistem AI. Tantangan yang dihadapi adalah memastikan integritas data yang relevan, akurat, dan aman. Data yang tidak tepat dapat mengakibatkan kegagalan sistem AI, yang berpotensi menimbulkan kerugian operasional dan strategis. Dampak negatif dari tantangan ini mencakup risiko keamanan nasional jika data dikompromikan dan kesalahan strategis akibat analisis data yang tidak akurat. Untuk menghadapi tantangan ini, TNI AU dapat mengimplementasikan protokol keamanan data yang ketat, melibatkan ahli data untuk memvalidasi dan memverifikasi dataset, serta melakukan simulasi dan pengujian ekstensif sebelum penerapan sistem AI secara penuh. Upaya ini akan memastikan bahwa TNI AU dapat memanfaatkan kekuatan AI dengan efektif sambil meminimalisir risiko yang terkait.

 

4)        Machines atau Mesin. TNI AU perlu mempertimbangkan kapasitas teknologi saat ini dan apa yang mungkin diperlukan untuk implementasi AI. Dalam konteks modernisasi pertahanan, TNI AU menghadapi tantangan signifikan dalam membangun infrastruktur komputasi dan data yang memadai untuk mendukung implementasi sistem AI. Aspek 'Machines' dari teori manajemen Emerson menjadi sangat relevan, merujuk pada kebutuhan akan infrastruktur teknologi yang canggih. Tantangan ini tidak hanya melibatkan pengadaan perangkat keras yang sesuai, tetapi juga memastikan bahwa arsitektur data dan komputasi dapat mendukung algoritma AI yang kompleks. Dampak negatif dari keterbatasan ini dapat berupa keterlambatan dalam pengambilan keputusan strategis dan potensi kerentanan dalam keamanan siber. Untuk mengatasi hal ini, TNI AU dapat melakukan investasi strategis dalam teknologi cloud computing, edge computing, dan pusat data yang aman, serta mengembangkan kemitraan dengan lembaga riset dan industri teknologi. Melalui upaya ini, AI tidak hanya dapat mengoptimalkan operasi militer tetapi juga meningkatkan kemampuan analitik dan responsif TNI AU dalam menghadapi ancaman yang dinamis.

 

5)        Methodes atau Metode. Dalam menghadapi era digitalisasi yang semakin maju, TNI AU dihadapkan pada tantangan untuk mengintegrasikan AI dalam operasionalnya. Tanpa regulasi yang jelas, penggunaan AI bisa menimbulkan risiko etis dan keamanan. Metode yang merujuk pada hukum, regulasi, etika, prosedur, dan protokol menjadi sangat penting untuk memastikan bahwa AI digunakan secara bertanggung jawab. Tantangan ini mencakup kebutuhan untuk melindungi data pribadi, mencegah bias dan diskriminasi oleh algoritma, serta memastikan transparansi dan akuntabilitas dalam pengambilan keputusan oleh AI. Dampak negatif dari tantangan ini bisa sangat luas, termasuk kerugian finansial, kerusakan reputasi, dan bahkan ancaman terhadap keamanan nasional. Untuk menghadapi tantangan ini, TNI AU perlu mengembangkan kerangka kerja regulasi yang kuat, yang mencakup pelatihan etis bagi pengembang dan operator AI, audit dan penilaian risiko yang berkelanjutan, serta mekanisme pengawasan yang efektif. Dengan demikian, TNI AU dapat memanfaatkan kekuatan AI untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas operasional, sambil meminimalkan risiko dan memastikan penggunaan yang etis dan bertanggung jawab.

 

Hasil pembahasan ini dapat disederhanakan, bahwa dalam rangka implementasi AI di sektor pertahanan khususnya TNI AU dapat melaksanakan melalui :

 

a.         Kolaborasi dan Inovasi: Membangun kemitraan dengan lembaga riset dan universitas untuk mengembangkan solusi AI yang inovatif dan efisien biaya.

 

b.         Pengembangan Kebijakan dan Regulasi. Mengembangkan kerangka kerja regulasi yang kuat untuk memastikan penggunaan AI yang etis dan bertanggung jawab.

 

c.         Peningkatan Infrastruktur. Membangun dan meningkatkan infrastruktur komputasi dan data yang memadai untuk mendukung operasional AI.

 

d.         Pelatihan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia. Investasi dalam pendidikan dan pelatihan intensif untuk memastikan personel memiliki keterampilan dan pengetahuan yang diperlukan dalam AI.

 

6.         Penutup.

 

a.         Simpulan. Berdasarkan hasil pembahasan, dapat diperoleh simpulan bahwa:

 

1)        Perkembangan teknologi, khususnya AI, sangat penting dalam konteks militer modern karena AI dapat meningkatkan efisiensi, presisi, dan efektivitas operasi militer.

 

2)        Tantangan utama TNI AU dalam implementasi AI di sektor pertahanan meliputi kesiapan sumber daya manusia, kesiapan organisasi, regulasi etis, dan infrastruktur komputasi yang belum memadai. Namun, terdapat peluang implementasi AI yang dapat dimanfaatkan antara lain mendukung pengembangan sumber daya manusia, meningkatkan efisiensi dan produktivitas, mendukung inovasi dan modernisasi peralatan militer, serta menawarkan solusi infrastruktur.

 

3)        TNI AU perlu menyusun strategi yang mencakup aspek kolaborasi dan inovasi, pengembangan kebijakan dan regulasi, peningkatan infrastruktur, dan pelatihan dan pengembangan sumber daya manusia untuk mengatasi tantangan dan memanfaatkan peluang implementasi AI di sektor pertahanan. Aspek-aspek strategi tersebut dapat diwakili melalui slogan KIRIM yaitu kolaborasi, inovasi, regulasi, infrastruktur, dan manusia.

 

b.         Rekomendasi. Rekomendasi untuk TNI AU adalah mengembangkan kerangka kerja yang kuat untuk implementasi AI yang efektif, efisien, etis dan bertanggung jawab di sektor pertahanan.


 

7.         Daftar Pustaka.

 

AFP, S.W.W. 2024. Israel Deploys New Military AI in Gaza War. The Defense Post. https://www.thedefensepost.com/2024/02/12/israel-military-ai-gaza/ 11 July 2024.

Bendett, S., Boulègue, M., Connolly, R., Konaev, M., Podvig, P. & Zysk, K. 2021. Advanced military technology in Russia.

Choudhury, R. 2024. Project Maven: The epicenter of US’ AI military efforts. Interesting Engineering. https://interestingengineering.com/military/project-maven-the-epicenter-of-us-ai-military-efforts 11 July 2024.

Dwipratama, G.P. 2024. IMPLIKASI KECERDASAN BUATAN DALAM INDUSTRI PERTAHANAN : TANTANGAN DAN PELUANG BAGI INDONESIA. https://www.kemhan.go.id/pothan/2024/03/20/implikasi-kecerdasan-buatan-dalam-industri-pertahanan-tantangan-dan-peluang-bagi-indonesia.html 11 July 2024.

E-Tan, J. 2022. Geopolitik AI: Tiongkok bangkit, AS sebagai alternatif? – EngageMedia. https://engagemedia.org/2022/artificial-intelligence-geopolitics/?lang=id 11 July 2024.

Kesmas. 2013. Fungsi Man, Money, Methods,Material, Markets sebagai Sarana Manajemen. The Indonesian Public Health. https://www.indonesian-publichealth.com/pengertian-5-m-dalam-manajemen/ 12 July 2024.

Schrepel, •Thibault. 2022. The Not-So-Pathetic Dot Theory. Network Law Review. https://www.networklawreview.org/not-so-pathetic-dot-theory/ 12 July 2024.

MENYIKAPI DISTRAKSI ARTIFICIAL INTELLIGENCE PADA GEN Z DALAM RANGKA MEWUJUDKAN KETAHANAN NASIONAL YANG KUAT

1. Judul . Menyikapi Distraksi Artificial Intelligence Pada Gen Z Dalam Rangka Mewujudkan Ketahanan Nasional Yang Kuat. 2. Variabel . ...