1. Judul. Menyikapi Distraksi Artificial Intelligence Pada Gen Z Dalam Rangka Mewujudkan Ketahanan Nasional Yang Kuat.
2. Variabel. Judul yang ditentukan oleh penulis terdiri dari tiga variabel utama yang akan dijadikan pedoman dalam mengidentifikasi pokok masalah, pokok persoalan, fakta-fakta, dan pokok pemecahan persoalan. Ketiga variabel tersebut antara lain:
a. Variabel dinamis/pokok bahasan (V1). Penguatan karakter Generasi Z merupakan pokok bahasan utama yang menjadi pokok persoalan untuk ditemukan solusinya.
b. Variabel statis/output antara (V2). Guna menghadapi distraksi artificial intelligence (AI) merupakan output antara yang memiliki korelasi langsung dengan pokok bahasan.
c. Variabel statis/outcome (V3). Dalam rangka mewujudkan ketahanan nasional yang kuat menjadi outcome sebagai hasil yang diharapkan dari penyelesaian persoalan pada pokok bahasan utama. Variabel ini memiliki korelasi tidak langsung dengan pokok bahasan dan output antara. Apabila penguatan karakter Generasi Z berhasil, maka distraksi AI dapat dihadapi selanjutnya akan berkontribusi pada ketahanan nasional yang kuat.
3. Pokok Masalah. Pokok masalah yang dibahas pada tulisan ini dapat diidentifikasi berdasarkan elaborasi ketiga variabel pada judul sehingga menjadi fokus pada bagaimana menguatkan karakter Generasi Z guna menghadapi distraksi AI dalam rangka mewujudkan ketahanan nasional yang kuat. Pokok masalah dapat diuraikan, sebagai berikut:
a. Ketahanan nasional yang kuat perlu diwujudkan. Ketahanan nasional yang kuat merupakan fondasi penting bagi suatu negara untuk menjaga integritas, identitas, dan kelangsungan hidup berbangsa dan bernegara. Konsep ini mencakup keuletan, ketangguhan, dan kemampuan untuk mengembangkan kekuatan dalam menghadapi berbagai ancaman, baik dari dalam maupun luar negeri. Ketahanan nasional tidak hanya terbatas pada aspek militer, tetapi juga mencakup aspek-aspek seperti ekonomi, sosial, budaya, dan politik yang harus dikelola secara terpadu dan harmonis. Dengan ketahanan nasional yang kuat, sebuah negara dapat mencapai tujuan nasionalnya, seperti yang tercantum dalam UUD 1945, serta meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran rakyatnya. Oleh sebab itu, setiap komponen bangsa, sesuai dengan keahlian dan kapasitasnya, harus berkontribusi dalam memperkuat ketahanan nasional.
b. Distraksi AI perlu dihadapi untuk mewujudkan ketahanan nasional yang kuat. Distraksi yang disebabkan oleh AI merupakan tantangan penting yang harus dihadapi untuk membangun ketahanan nasional, terutama dalam konteks Generasi Z. Generasi ini, yang lahir di era digital, sering kali terpapar pada berbagai bentuk teknologi canggih seperti AI, yang dapat mempengaruhi cara mereka berpikir dan bertindak. Penelitian menunjukkan bahwa AI dapat mengarahkan Generasi Z ke sikap individualisme dan kurangnya kepedulian terhadap lingkungan sosial mereka. Hal ini dapat mengurangi kemampuan mereka untuk berkontribusi secara efektif dalam membangun ketahanan nasional. Oleh sebab itu, penting untuk mengembangkan strategi yang dapat mengintegrasikan AI dalam pendidikan dan pembentukan karakter, sehingga Generasi Z dapat menggunakan teknologi ini dengan bijak dan bertanggung jawab. Dengan demikian, mereka akan menjadi generasi yang tangguh dan mampu menghadapi tantangan masa depan dengan ketahanan nasional yang kuat.
c. Penguatan karakter Generasi Z sebagai salah satu cara menghadapi distraksi AI dan mewujudkan ketahanan nasional yang kuat. Penguatan karakter Generasi Z merupakan langkah penting dalam menghadapi distraksi yang ditimbulkan oleh kemajuan AI. Dengan karakter yang kuat, Generasi Z dapat lebih kritis dan selektif dalam menggunakan teknologi, sehingga mampu memanfaatkannya untuk tujuan yang produktif dan konstruktif. Hal ini penting karena AI memiliki potensi untuk mengubah cara kita berinteraksi, bekerja, dan belajar. Pendidikan karakter yang efektif dapat membantu Generasi Z untuk mengembangkan keterampilan seperti empati, etika, dan tanggung jawab sosial, yang semuanya penting untuk mempertahankan kemanusiaan di tengah pesatnya perkembangan teknologi. Selain itu, penguatan karakter juga berperan dalam membangun ketahanan nasional. Generasi muda yang berdaya tahan akan membawa energi, visi, dan inovasi yang diperlukan untuk menghadapi tantangan ekonomi, sosial, budaya, dan teknologi di masa depan (Alfikri, 2023). Oleh karena itu, pendidikan karakter tidak hanya mempersiapkan individu untuk sukses secara pribadi tetapi juga memastikan bahwa mereka siap untuk berkontribusi terhadap kekuatan dan solidaritas bangsa.
4. Potret. Generasi Z, yang lahir antara tahun 1995 dan 2010, dikenal dengan beberapa karakteristik khas. Mereka adalah digital natives yang tumbuh di era internet, sehingga sangat akrab dengan teknologi dan media sosial. Karakteristik utama mereka termasuk kemampuan adaptasi yang tinggi, kecerdasan dalam memanfaatkan teknologi untuk berbagai keperluan, dan toleransi terhadap perbedaan budaya. Generasi ini juga memiliki pemikiran global, sering terhubung dan berjejaring di dunia virtual, serta memiliki kesadaran finansial yang baik sejak usia muda. Selain itu, mereka cenderung mandiri, ambisius, dan memiliki orientasi yang kuat terhadap pencapaian finansial. Meskipun demikian, mereka juga dikritik karena kurangnya fokus dan rentang perhatian yang pendek, serta kecenderungan untuk mengumbar privasi di media social (Salim, 2024).
Generasi Z dihadapkan pada masa yang serba tidak mudah. Berbagai kemajuan teknologi menuntun mereka pada sikap individualis dan acuh tak acuh terhadap sekitarnya. Teknologi mendistraksi rasa kemanusiaan Generasi Z dan menuntun mereka menjadi manusia yang tidak utuh (Sunggu, 2023). Tidak hanya itu, Generasi Z, yang juga dikenal sebagai Gen Z atau i-generation, memiliki karakteristik yang unik dan membedakannya dari generasi sebelumnya. Berikut beberapa potret atau fakta tentang karakter Generasi Z saat ini:
a. Terbiasa dengan teknologi. Generasi Z lahir dan tumbuh di era teknologi yang berkembang pesat. Mereka sangat akrab dengan internet, ponsel pintar, dan berbagai platform media social. Keterampilan mereka dalam mengoperasikan teknologi memungkinkan mereka untuk berkomunikasi, belajar, dan bekerja secara efisien (Mahar, 2022).
b. Fleksibel dan toleran pada perbedaan budaya. Generasi Z terhubung secara global dan berjejaring di dunia virtual. Mereka memiliki pemahaman yang lebih universal tentang teknologi dan toleransi terhadap perbedaan budaya.
c. Berkeinginan untuk berbagi pengetahuan. Teknologi yang semakin canggih memudahkan Generasi Z dalam berbagi informasi. Mereka aktif menyebarkan pengetahuan yang dimiliki melalui media sosial dan platform online lainnya (Amanda, 2019).
d. Mengutamakan kreativitas dan ambisi. Generasi Z memiliki ambisi besar untuk sukses. Mereka kreatif dan mampu memanfaatkan perubahan teknologi dalam kehidupan sehari-hari.
e. Memiliki pengetahuan finansial yang baik. Generasi Z menyadari pentingnya menabung dan investasi di masa depan. Mereka memiliki orientasi finansial yang jelas dan berhati-hati agar tidak terjebak dalam hutang .
f. Berperilaku instan dan menyukai hal yang detail. Generasi Z cenderung berperilaku instan dan menginginkan pengakuan. Mereka juga memiliki ketertarikan pada hal-hal yang detail dan mendalam.
g. Mengubah paradigma di dunia digital. Generasi Z memiliki potensi untuk mengubah iklim dunia kerja dan gaya hidup. Mereka akan memperluas kesenjangan dengan generasi sebelumnya dan membentuk lanskap sosial dan budaya di masa depan.
5. Pokok-pokok Persoalan. Pokok-pokok persoalan yang dibahas merupakan penyebab terjadinya kondisi karakter Generasi Z saat ini, antara lain:
a. Ketergantungan pada teknologi. Generasi Z tumbuh dengan teknologi yang sangat canggih dan terhubung secara digital. Mereka cenderung menghabiskan banyak waktu di perangkat gawai mereka, termasuk interaksi dengan AI. Ketergantungan ini dapat mengganggu keseimbangan antara dunia maya dan dunia nyata.
b. Kurangnya keterampilan kritis. Meskipun terbiasa dengan teknologi, Generasi Z kurang mengembangkan keterampilan kritis dalam mengelola informasi yang diberikan oleh AI. Mereka kurang mempertanyakan kebenaran atau relevansi informasi yang diberikan oleh algoritma tersebut.
c. Distraksi dan produktivitas. AI dapat menjadi sumber distraksi bagi Generasi
Z. Dari media sosial hingga aplikasi berbasis AI, banyak hal yang dapat mengalihkan perhatian mereka dari tugas-tugas produktif atau interaksi sosial yang lebih bermakna.
d. Etika dan privasi. Generasi Z perlu memahami etika penggunaan teknologi dan privasi. AI dapat mengumpulkan data pribadi mereka, dan pemahaman tentang bagaimana data ini digunakan dan dilindungi adalah penting.
e. Kehilangan empati dan interaksi manusia. Terlalu banyak mengandalkan AI dapat mengurangi kemampuan Generasi Z untuk berempati dan berinteraksi dengan manusia secara langsung. Hal ini dapat memengaruhi hubungan sosial dan kesejahteraan mental mereka.
6. Pokok-pokok Pemecahan Persoalan. Pokok-pokok pemecahan persoalan merupakan penyelesaian pokok-pokok persoalan yang telah diidentifikasi dan diuraikan dalam bentuk deskripsi mengenai kebijakan, strategi, dan upaya yang dilaksanakan. Kebijakan, strategi, dan upaya tersebut antara lain:
a. Kebijakan. Rumusan kebijakan disusun berdasarkan pokok-pokok persoalan yang telah diformulasikan dalam judul. Rumusan kebijakan adalah Terwujudnya penguatan karakter Generasi Z melalui pengembangan kemandirian dan pengaturan waktu, peningkatan keterampilan kritis, peningkatan kesadaran etika dan privasi, mengatur keseimbangan hidup dan produktivitas, serta pengembalian empati dan interaksi manusia.
b. Strategi. Rumusan strategi guna menyukseskan kebijakan tersebut antara lain:
1) Strategi pertama. Mengembangkan kemandirian dan pengaturan waktu yang bertujuan menghindari dampak negatif dari teknologi dan menggunakan alat digital secara efektif untuk mencapai tujuan.
2) Strategi kedua. Meningkatkan keterampilan kritis bertujuan untuk waspada dan selalu menyaring kebenaran dan relevansi informasi yang diperoleh dari AI maupun media digital lainnya.
3) Strategi ketiga. Meningkatkan kesadaran etika dan privasi bertujuan untuk memahami pentingnya etika dalam penggunaan teknologi, memahami risiko privasi dan bertanggung jawab dalam interaksi digital.
4) Strategi keempat. Mengatur keseimbangan hidup dan produktivitas bertujuan untuk menerapkan kebiasaan kerja yang efisien dan mengatur waktu dengan bijaksana dapat membantu mereka tetap fokus dan produktif.
5) Strategi kelima. Mengembalikan empati dan interaksi manusia bertujuan agar manusia tetap dapat menjadi manusia seutuhnya dengan berinisiatif melibatkan diri dalam kegiatan sosial dan membangun hubungan sosial dengan orang lain.
c. Upaya. Upaya atau langkah nyata yang dapat dilakukan guna melaksanakan strategi tersebut, antara lain:
1) Upaya melaksanakan strategi pertama. Upaya yang dapat dilakukan antara lain:
a) Pemerintah memberikan edukasi dan literasi mengenai pengembangan kemandirian dan pengaturan waktu kepada Generasi Z.
b) Generasi Z mengatur waktu penggunaan perangkat digital secara mandiri dengan aplikasi yang tersedia di perangkat. Selain itu, juga perlu menyadari dampak negative dari kecanduan teknologi.
2) Upaya melaksanakan strategi kedua. Upaya yang dapat dilakukan antara lain:
a) Pemerintah memberikan edukasi dan literasi mengenai peningkatan keterampilan kritis kepada Generasi Z.
b) Generasi Z memverifikasi sumber informasi dan menghindari menyebarkan informasi dari sumber yang tidak terpercaya.
3) Upaya melaksanakan strategi ketiga. Upaya yang dapat dilakukan antara lain:
a) Pemerintah memberikan edukasi dan literasi mengenai peningkatan kesadaran etika dan privasi kepada Generasi Z.
b) Generasi Z menjaga privasinya dan menghormati privasi orang lain terutama data pribadi yang ada di dunia maya.
4) Upaya melaksanakan strategi keempat. Upaya yang dapat dilakukan antara lain:
a) Pemerintah memberikan edukasi dan literasi tentang mengatur keseimbangan hidup dan produktivitas kepada Generasi Z.
b) Generasi Z dapat membatasi dirinya untuk mengunjungi situs penyebab distraksi dan memanfaatkan AI untuk mengelola tugas sehari- hari.
5) Upaya melaksanakan strategi kelima. Upaya yang dapat dilakukan antara lain:
a) Pemerintah memberikan edukasi dan literasi tentang berempati dan berinteraksi antar sesama manusia kepada Generasi Z.
b) Generasi Z dapat memupuk empati dengan cara memberikan sedekah yang rutin kepada orang yang membutuhkan. Berinteraksi dengan sesame manusia dengan aktif mengikuti organisasi sekolah maupun kemasyarakatan.
7. Penutup. Berdasarkan pembahasan terhadap pokok-pokok persoalan, dapat diperoleh kesimpulan dan saran.
a. Kesimpulan. Berdasarkan uraian persoalan dan pemecahan persoalan, dapat diambil kesimpulan antara lain:
1) Karakter Generasi Z perlu diperkuat guna menghadapi distraksi AI dalam rangka mewujudkan ketahanan nasional yang kuat. Persoalan karakter Generasi Z yang sudah terindikasi antara lain ketergantungan pada teknologi, kurangnya keterampilan kritis, distraksi dan produktivitas, etika dan privasi, kehilangan empati dan interaksi manusia.
2) Kebijakan, strategi, dan upaya penguatan karakter Generasi Z merujuk pada terwujudnya penguatan karakter Generasi Z melalui pengembangan kemandirian dan pengaturan waktu, peningkatan keterampilan kritis, peningkatan kesadaran etika dan privasi, mengatur keseimbangan hidup dan produktivitas, serta pengembalian empati dan interaksi manusia.
3) Penguatan karakter Generasi Z membutuhkan partisipasi dari pemerintah dan Generasi Z itu sendiri dalam menjalankan kebijakan, strategi dan upaya- upaya yang telah ditentukan.
b. Saran. Saran yang dapat disampaikan adalah mengintegrasikan AI pada infrastruktur sekolah dan infrastruktur umum di masyarakat sehingga memungkinkan terjadi kolaborasi antara Generasi Z dengan generasi sebelumnya. Generasi Z dapat belajar dari pengalaman orang tua dan menggabungkan wawasan yang berbeda. Hal ini dapat memperkuat karakter Generasi Z dalam menghadapi perubahan teknologi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar