MEMAHAMI PELUANG DAN MENYIKAPI TANTANGAN IMPLEMENTASI ARTIFICIAL INTELLIGENCE (AI) DI SEKTOR PERTAHANAN
1.
Judul. Memahami
Peluang dan Menyikapi Tantangan Implementasi Artificial Intelligence (AI)
di Sektor Pertahanan.
2.
Latar Belakang. Perang dan teknologi
selalu berkembang beriringan sepanjang sejarah. Konflik bersenjata seringkali
memicu inovasi dan kemajuan teknologi yang signifikan. Dari penemuan mesiu
hingga pengembangan roket, teknologi militer telah berperan penting dalam
menentukan hasil dari peperangan. Sejarah telah menunjukkan bahwa negara-negara
yang mampu menguasai teknologi tercanggih sering kali mendapat keunggulan
strategis dalam konflik. Dalam era modern saat ini, kecerdasan buatan yang
dikenal dengan istilah artificial intelligence (AI) telah menjadi faktor
penting dalam konteks militer. AI menawarkan kemampuan untuk memproses dan
menganalisis data dalam jumlah besar dengan cepat dan akurat, yang sangat
berharga dalam situasi yang kompleks dan berisiko tinggi. Penggunaan AI dalam
militer mencakup berbagai aspek, mulai dari analisis data, pengintaian,
penargetan, navigasi, hingga pengoperasian senjata otonom. Manfaat AI dalam
dunia militer sangat luas, termasuk mendukung persenjataan, meningkatkan
keamanan siber, dan bahkan kebutuhan medis. AI dapat meningkatkan efisiensi,
presisi, dan efektivitas operasi militer, serta mengurangi risiko bagi personel
militer dengan otomatisasi tugas-tugas tertentu. Namun, penggunaan AI juga
menimbulkan pertanyaan etis dan hukum yang penting, seperti tanggung jawab
dalam pengambilan keputusan dan nilai kehidupan manusia. Indonesia, sebagai
contoh, telah menyoroti pentingnya regulasi pemanfaatan AI dalam persenjataan,
mengingat potensi dampaknya terhadap hukum, etika, dan masyarakat.
Sejalan dengan pentingnya regulasi pemanfaatan AI, Presiden Republik
Indonesia, Bapak Joko Widodo telah menekankan pentingnya transformasi digital,
termasuk dalam sektor pertahanan, dengan lima program utama yang diumumkan pada
Agustus 2020. Program-program tersebut meliputi perluasan akses digital,
pengembangan roadmap transformasi digital di sektor strategis,
percepatan integrasi pusat data nasional, persiapan SDM talenta digital, dan
pembuatan regulasi terkait pendanaan transformasi digital. Pengembangan dan
implementasi AI dalam militer di Indonesia juga harus dilaksanakan dengan
pertimbangan yang matang, memastikan bahwa penggunaannya sesuai dengan
norma-norma internasional dan etika perang. Salah satu instansi militer di Indonesia
yaitu TNI AU menghadapi tantangan dan peluang yang besar dalam
mengimplementasikan AI untuk meningkatkan kapabilitas pertahanan negara. Tantangan
yang dihadapi TNI AU bersumber dari minimnya kesiapan sumber daya manusia yang
terampil menggunakan AI, belum adanya regulasi yang mengatur penggunaan AI
secara etis dan bertanggung jawab, infrastruktur komputasi dan data yang belum
memadai, serta kurangnya kesiapan organisasi dalam mengadopsi inovasi AI di
lingkungan TNI AU. Di sisi lain, terdapat peluang implementasi AI yang sangat
berdampak bagi TNI AU antara lain mendukung pengembangan sumber daya manusia,
meningkatkan efisiensi dan produktivitas, mendukung inovasi dan modernisasi
peralatan dan strategi militer, serta menawarkan solusi infrastruktur.
Menindaklanjuti hal tersebut, dalam rangka menyikapi tantangan dan memanfaatkan
peluang implementasi AI di sektor pertahanan, TNI AU dipandang perlu menyusun
strategi. Aspek manajemen man, machine, methode, money, dan material
(5M) menjadi hal yang krusial untuk ditinjau dalam penyusunan strategi tersebut.
Isu-isu dalam strategi dari negara lain baik global maupun regional juga harus
diperhitungkan dalam penyusunan strategi. Sementara itu, TNI AU juga harus
mempertimbangkan dan menyelaraskan misi-misi kecerdasan artifisialnya dengan menelaah
area-area fokus dan bidang-bidang prioritas yang tepat. Hasil pembahasan
tentang 5M, isu-isu penting, dan misi AI diharapkan mampu menjawab rumusan
masalah bagaimana strategi TNI AU dalam menyikapi tantangan dan memanfaatkan
peluang implementasi artificial intelligence (AI) di sektor pertahanan.
3.
Rumusan Masalah. Mengacu pada latar
belakang adanya hubungan kasual antara perang dan teknologi serta pentingya AI
dalam konteks militer modern yang ditandai dengan perkembangan teknologi AI dan
penerapan AI di militer global, maka dapat disusun rumusan masalah yaitu
bagaimana strategi TNI AU dalam menyikapi tantangan dan memanfaatkan peluang
implementasi artificial intelligence (AI) di sektor pertahanan. Dirumuskan
tiga pertanyaan kajian yang akan dibahas pada penelitian ini, antara lain
a.
Bagaimana AI berkembang dan diterapkan dalam
bidang militer global?
b.
Bagaimana peluang dan tantangan implementasi AI
di sektor pertahanan khususnya bagi TNI AU?
c.
Bagaimana TNI AU menyikapi tantangan dan memanfaatkan
peluang implementasi AI di sektor pertahanan?
4.
Kerangka Teoritis. Teori-teori yang
digunakan sebagai landasan analisis pada penulisan kertas karya acuan ini, antara
lain:
a.
UU RI Nomor 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan
Negara. Pada pasal 20 ayat 2 UU No. 3/2002 disebutkan bahwa segala sumber
daya nasional yang berupa sumber daya manusia, sumber daya alam dan buatan,
nilai-nilai, teknologi, dan dana dapat didayagunakan untuk meningkatkan
kemampuan pertahanan negara yang diatur lebih lanjut dengan Peraturan
Pemerintah. Mengacu pada ketentuan tersebut, maka konsep sinergitas TNI-Polri
berupaya untuk merancang pengelolaan berbagai sumber daya yang dapat
dilaksanakan oleh TNI terkait pembinaan potensi kedirgantaraan yang membutuhkan
keterlibatan pemerintah RI khususnya dalam desain organisasi dan penyediaan
sumber daya nasional..
b.
Teori Empat Faktor menurut Lawrence Lessig.
Teori ini dikenal sebagai teori titik menyedihkan (Pathetic Dot Theory),
adalah teori sosioekonomi tentang regulasi. Teori ini membahas bagaimana
kehidupan individu diatur oleh empat kekuatan yaitu hukum (the law),
norma sosial (social norms), pasar (the market), dan arsitektur (architecture)
(Schrepel, 2022). Faktor hukum mengatur
perilaku kita dengan ancaman sanksi jika tidak dipatuhi. Faktor norma sosial
menyatakan bahwa norma sosial dan etika harus ditegakkan oleh masyarakat sebagai
kekuatan untuk memaksa orang bertindak dengan cara tertentu. Faktor pasar erat
kaitannya dengan perekonomian dan biaya yang membatasi perilaku individu
melalui harga. Sesuatu yang murah cenderung dilakukan, dan apa yang mahal
cenderung memiliki akses terbatas. Faktor keempat merupakan arsitektur yang mengatur
dengan cara menempatkan penghalang dan jalur di jalan seseorang.
c.
Teori Manajemen menurut Harrington Emerson.
Teori manajemen menurut Harrington Emerson, seperti yang dijelaskan dalam karya
Phiffner John F. dan Presthus Robert V. pada tahun 1960, merujuk pada konsep
manajemen yang dikenal sebagai model 5M antara lain Men atau Manusia, Money
atau Uang, Materials atau Bahan, Machines atau Mesin, dan Methodes
atau Metode (Kesmas, 2013). Manusia merupakan unsur
mutlak dan yang terpenting dalam manajemen. Sebagai sumber tenaga kerja utama,
manajemen tidak akan berjalan tanpanya. Uang adalah sarana terpenting setelah
manusia. Dalam kegiatannya, dapat dipastikan mereka membutuhkan uang. Bahan-bahan
juga penting dalam manajemen. Bahan-bahan itu dapat berupa bahan mentah, bahan
setengah jadi maupun bahan jadi. Penggunaan mesin semakin meningkat seiring
dengan kemajuan teknologi. Penggunaan mesin biasanya dilakukan untuk mencapai
efisiensi kerja. Metode adalah cara pelaksanaan kerja. Metode kerja yang baik
adalah yang sederhana, mudah, dan dapat mempercepat penyelesaian pekerjaan.
5.
Pembahasan. Pembahasan ini akan
menganalisis fenomena yang dikemukakan pada latar belakang dengan menggunakan
kerangka teoritis yang bertujuan untuk mendapatkan jawaban dari rumusan masalah
dan pertanyaan-pertanyaan kajian.
a.
Perkembangan dan penerapan AI dalam bidang
militer global. Artificial Intelligence (AI), atau kecerdasan buatan
dalam Bahasa Indonesia, adalah simulasi kecerdasan manusia yang diterapkan ke
dalam sistem komputer atau perangkat mesin lain. Tujuan utama dari AI adalah
untuk menciptakan teknologi yang mampu meniru aktivitas kognitif manusia,
seperti belajar, melakukan penalaran, mengambil keputusan, dan mengoreksi diri.
AI dapat melakukan setidaknya satu di antara empat hal antara lain acting
humanly yaitu sistem dapat bertindak seperti manusia, thinking humanly yaitu sistem bisa
berpikir layaknya manusia, thinking rationall yaitu sistem mampu
berpikir secara rasional, atau acting rationally yaitu sistem sanggup
bertindak dengan rasional. AI telah mengalami perkembangan dan banyak
diaplikasikan di berbagai bidang, salah satunya bidang militer guna
meningkatkan efisiensi, akurasi, dan keamanan operasi militer. Dunia militer
global sedang mengalami transformasi besar dengan integrasi kecerdasan buatan
(AI) dalam berbagai aspek operasional. Negara-negara maju seperti Amerika
Serikat, Tiongkok, Rusia, Israel, dan lainnya telah memimpin dalam penerapan
teknologi ini untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi kekuatan bersenjata
mereka. Penerapan AI di sektor militer diintegrasikan pada Warfare Systems,
Strategic Decision Making, Data Processing & Research, Combat Simulation,
Target Recognition, Threat Monitoring, Drone Swarms, Cybersecurity,
Transportation and Causalty Care & Evacuation (Dwipratama, 2024). Integrasi tersebut akan
memainkan peran yang sangat penting dalam kerangka kerja Command, Control,
Comunications, Computer, Intelligence, Surveillance and Reconnaissance (C4ISR)
dalam paradigma Network Centric Warfare (NCW).
Amerika
Serikat, sebagai contoh, telah mengadopsi AI dalam berbagai aplikasi militer,
mulai dari sistem logistik yang otomatis hingga platform pertempuran yang
canggih. Inisiatif seperti Project Maven, yang menggunakan AI untuk
menginterpretasikan video secara real-time, telah menunjukkan potensi AI dalam
meningkatkan kesadaran situasional dan kecepatan pengambilan keputusan di medan
perang (Choudhury, 2024). Tiongkok mengintegrasikan AI
ke dalam militer dan mengerjakan AI otonom yang mampu menghitung muatan
amunisi, memprioritaskan dan menetapkan ribuan target, serta mengusulkan jadwal
penerbangan. Tiongkok juga menggunakan teknologi AI untuk memperluas
pengaruhnya secara ekonomi dan geopolitik melalui Strategi Digital Silk Road (E-Tan, 2022). Rusia fokus mengintegrasikan
AI dengan teknologi militer melalui pengembangan Disrupting Command and
Control Systems guna mengganggu dan menghancurkan sistem komando dan
kontrol, serta kemampuan komunikasi musuh (Bendett et al., 2021). Israel pun tidak ketinggalan
mengintegrasikan AI dalam teknologi militernya yaitu teknologi yang mampu mengerahkan
kawanan drone untuk mengidentifikasi personel dan objek sasaran sebelum
menyerang target (AFP, 2024).
Pemanfaatan
AI dalam bidang militer oleh negara-negara tersebut menunjukkan pergeseran paradigma
dalam strategi pertahanan dan keamanan. AI tidak hanya meningkatkan kemampuan
operasional tetapi juga menimbulkan pertanyaan etis dan hukum yang kompleks. Penting
bagi komunitas internasional untuk bekerja sama dalam mengembangkan kerangka
kerja untuk penggunaan AI yang bertanggung jawab dan etis dalam konteks
militer. AI telah menjadi bagian integral dari strategi militer global, dan
negara-negara maju terus mendorong batas-batas teknologi ini. Namun, dengan
kemajuan ini, muncul tanggung jawab untuk memastikan bahwa AI digunakan dengan
cara yang memperkuat stabilitas global dan mematuhi hukum internasional. Dialog
dan kerja sama internasional akan menjadi kunci untuk mencapai keseimbangan
antara inovasi dan tanggung jawab dalam era AI militer yang baru ini.
b.
Peluang dan tantangan implementasi AI di
sektor pertahanan khususnya bagi TNI AU.
1)
Peluang. Peluang implementasi AI yang dibahas
pada tulisan ini, antara lain:
a)
Mendukung pengembangan sumber daya manusia. Penggunaan
kecerdasan buatan (AI) dalam mendukung pengembangan sumber daya manusia di
sektor pertahanan, khususnya bagi TNI AU, menawarkan berbagai peluang inovatif.
AI dapat digunakan untuk melatih dan meningkatkan keterampilan analitis dan
strategis personel melalui simulasi yang kompleks dan realistis. Dengan AI, TNI
AU dapat mengembangkan program pelatihan yang disesuaikan dengan kebutuhan
individu, memungkinkan pembelajaran yang lebih efisien dan efektif. Selain itu,
AI juga dapat membantu dalam pengambilan keputusan strategis dengan menyediakan
analisis data yang cepat dan akurat, yang sangat penting dalam operasi militer.
Dengan demikian, integrasi AI dalam pengembangan sumber daya manusia tidak
hanya akan meningkatkan kemampuan individu, tetapi juga akan memperkuat
kapabilitas keseluruhan TNI AU dalam menjaga kedaulatan negara.
b)
Meningkatkan efisiensi dan produktivitas. Penerapan
AI di sektor pertahanan, khususnya bagi TNI AU, memiliki potensi besar untuk
meningkatkan efisiensi operasional dan produktivitas. AI dapat digunakan untuk mengoptimalkan
perencanaan misi, dengan memanfaatkan data historis dan simulasi untuk
meramalkan hasil yang paling efektif. Dalam pelatihan, AI bisa membantu dalam
pengembangan simulator yang canggih, memungkinkan pilot untuk mengalami
berbagai skenario tanpa risiko yang tinggi. Pemeliharaan pesawat juga dapat
ditingkatkan melalui prediksi kebutuhan perawatan menggunakan AI, sehingga
mengurangi waktu tunggu dan biaya operasional. Selain itu, AI dapat mendukung
analisis intelijen dengan cepat mengidentifikasi pola dari data yang besar,
mempercepat pengambilan keputusan strategis. Dengan demikian, integrasi AI
dalam berbagai aspek operasional TNI AU dapat membawa transformasi signifikan
dalam mencapai efisiensi dan produktivitas yang lebih tinggi.
c)
Mendukung inovasi dan modernisasi peralatan dan
strategi militer. Penerapan kecerdasan buatan (AI) dalam sektor pertahanan,
khususnya bagi TNI AU, menawarkan berbagai peluang inovatif yang dapat mengubah
paradigma keamanan nasional. AI dapat memperkuat kemampuan analisis data
intelijen, meningkatkan akurasi sistem penginderaan dan pengawasan, serta
mempercepat proses pengambilan keputusan dalam situasi kritis. Dengan integrasi
AI, TNI AU dapat mengembangkan peralatan militer yang lebih canggih, seperti drone
otonom untuk misi pengintaian dan serangan presisi, serta sistem pertahanan
siber untuk melindungi infrastruktur kritikal. Selain itu, AI juga dapat
mendukung pelatihan simulasi yang realistis untuk meningkatkan kesiapan dan
kemampuan taktis personel. Modernisasi strategi militer dengan AI ini tidak
hanya meningkatkan efektivitas operasional tetapi juga memastikan bahwa TNI AU
tetap relevan dalam menghadapi tantangan keamanan di era digital.
d)
Menawarkan solusi infrastruktur. Dalam konteks
TNI AU, penerapan AI dapat memberikan solusi inovatif untuk infrastruktur
dengan biaya yang efisien. Misalnya, AI dapat digunakan untuk mengoptimalkan
penggunaan sumber daya, memprediksi kebutuhan pemeliharaan, dan meningkatkan
efisiensi logistik. Dengan demikian, penghematan biaya dapat dialokasikan untuk
pengembangan sumber daya manusia, seperti pelatihan dan pendidikan. AI juga
dapat membantu dalam merancang kurikulum yang adaptif dan personalisasi
pembelajaran untuk meningkatkan kualitas pendidikan di TNI AU. Selain itu, AI
dapat memfasilitasi simulasi dan permainan perang untuk melatih taktik dan
strategi tanpa risiko nyata, sehingga memperkaya pengalaman belajar dan
mempersiapkan personel dengan lebih baik untuk situasi nyata. Dengan pendekatan
ini, TNI AU dapat membangun fondasi yang kuat untuk masa depan pertahanan yang
cerdas dan tangguh.
2)
Tantangan. Tantangan implementasi AI yang
dibahas pada tulisan ini, antara lain:
a)
Minimnya kesiapan sumber daya manusia yang
terampil menggunakan AI. Minimnya kesiapan sumber daya manusia yang terampil
dalam menggunakan AI menjadi salah satu tantangan utama dalam implementasi
teknologi ini di berbagai sektor, termasuk pertahanan. Hal ini tidak hanya
berdampak pada efektivitas penerapan AI, tetapi juga pada keamanan dan
keberlanjutan operasional. Untuk mengatasi tantangan ini, diperlukan investasi
yang signifikan dalam pendidikan dan pelatihan, pengembangan kurikulum yang
sesuai dengan kebutuhan industri, serta pembangunan ekosistem yang mendukung
inovasi dan kolaborasi antara akademisi, industri, dan institusi pemerintah.
Selain itu, penting juga untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya literasi
digital dan AI di kalangan anggota TNI AU, sehingga mereka dapat memanfaatkan
teknologi ini secara maksimal untuk mendukung tugas-tugas pertahanan negara.
Dengan demikian, kesiapan sumber daya manusia yang terampil dalam AI dapat
terwujud, yang pada akhirnya akan meningkatkan kemampuan pertahanan nasional di
era digital ini.
b)
Kurangnya kesiapan organisasi dalam mengadopsi
inovasi AI di lingkungan TNI AU. Kesiapan organisasi dalam mengadopsi inovasi
AI di lingkungan TNI AU merupakan tantangan yang kompleks. Hal ini tidak hanya
melibatkan aspek teknologi, tetapi juga perubahan budaya organisasi, kebijakan,
dan proses pelatihan. Untuk mengintegrasikan AI secara efektif, TNI AU perlu
membangun infrastruktur data yang solid, mengembangkan kebijakan yang mendukung
inovasi, dan memastikan bahwa personelnya memiliki keahlian yang diperlukan
untuk bekerja bersama sistem AI. Selain itu, penting untuk mempertimbangkan
etika dan hukum dalam penggunaan AI, memastikan bahwa penggunaannya sesuai
dengan standar internasional dan tidak melanggar hak asasi manusia. Dengan
pendekatan yang terstruktur dan komprehensif, TNI AU dapat mengatasi tantangan
ini dan memanfaatkan kekuatan AI untuk meningkatkan kemampuan pertahanan
nasional.
c)
Belum adanya regulasi yang mengatur penggunaan
AI secara etis dan bertanggung jawab. Penggunaan AI di sektor pertahanan memang
menawarkan potensi yang besar, tapi juga menghadapi tantangan etis dan regulasi
yang signifikan. Salah satu tantangan utama adalah kurangnya kerangka kerja
hukum yang jelas yang mengatur penggunaan AI, khususnya dalam konteks militer.
Tanpa regulasi yang memadai, ada risiko bahwa AI dapat digunakan dengan cara
yang tidak etis atau bertentangan dengan hukum internasional. Hal ini menuntut
pembuatan kebijakan yang komprehensif yang tidak hanya mengatur aspek teknis
penggunaan AI, tetapi juga mempertimbangkan implikasi etis dan tanggung jawab
moral. Regulasi tersebut harus mampu menjamin bahwa penggunaan AI di sektor
pertahanan dilakukan dengan transparansi, akuntabilitas, dan sesuai dengan
nilai-nilai kemanusiaan. Dengan demikian, penting bagi pembuat kebijakan untuk
bekerja sama dengan ahli teknologi, etik, dan hukum untuk mengembangkan standar
yang akan mengarahkan penggunaan AI di sektor pertahanan ke arah yang
bertanggung jawab dan berkelanjutan.
d)
Infrastruktur komputasi dan data yang belum
memadai. Infrastruktur komputasi dan data yang belum memadai merupakan salah
satu hambatan utama dalam implementasi AI di sektor pertahanan, khususnya bagi
TNI AU. Keterbatasan ini tidak hanya mempengaruhi kapasitas pengolahan data
yang besar dan kompleks, yang esensial untuk operasi AI, tetapi juga berdampak
pada kecepatan dan efisiensi dalam pengambilan keputusan strategis. Untuk
mengatasi tantangan ini, diperlukan investasi yang signifikan dalam pembangunan
dan peningkatan infrastruktur teknologi informasi. Hal ini mencakup penambahan
sumber daya komputasi, penyimpanan data yang aman dan terlindungi, serta
jaringan yang mampu mendukung pertukaran informasi dengan cepat dan andal.
Selain itu, pengembangan sumber daya manusia yang memiliki keahlian dalam
bidang AI dan analisis data juga menjadi kunci untuk memaksimalkan potensi AI
dalam mendukung tugas-tugas TNI AU. Dengan demikian, pembangunan infrastruktur
yang memadai akan membuka jalan bagi integrasi AI yang efektif, sehingga
meningkatkan kemampuan pertahanan nasional.
c.
Menyikapi tantangan dan memanfaatkan peluang
implementasi AI di sektor pertahanan khususnya TNI AU. Pada tulisan ini, pembahasan
tentang strategi menyikapi tantangan dan memanfaatkan peluang implementasi AI
di sektor pertahanan dititikberatkan lima aspek manajemen atau 5M yang
dikemukakan oleh Harrington Emerson.
Mengacu
teori empat faktor Lawrence Lessig, bahwa kehidupan individu diatur oleh empat
kekuatan yaitu hukum (the law), norma sosial (social norms),
pasar (the market), dan arsitektur (architecture). Teori ini juga
revelan diterapkan pada operasional sebuah organisasi seperti halnya TNI AU
dalam menyikapi tantangan dan memanfaatkan peluang implementasi AI di sektor
pertahanan. Pertama, faktor hukum, TNI AU harus mematuhi hukum dan regulasi
yang berlaku terkait penggunaan AI, baik di tingkat internasional maupun
nasional. Kedua, penggunaan AI oleh TNI AU harus selaras dengan norma sosial
dan etika, termasuk menghormati hak asasi manusia serta menjaga privasi dan
keamanan data. Ketiga, faktor ekonomi, TNI AU perlu mempertimbangkan biaya
pengembangan dan pemeliharaan AI, serta potensi penghematan dan efisiensi yang
dapat diperoleh. Keempat, infrastruktur teknologi dan sistem yang digunakan
oleh TNI AU akan memengaruhi implementasi dan penggunaan AI secara efektif.
Berdasarkan pembahasan singkat terhadap keempat faktor tersebut, faktor hukum
dan norma sosial etika merupakan faktor krusial yang harus menjadi perhatian
utama bagi TNI AU dalam menyikapi tantangan dan memanfaatkan peluang implementasi
AI di sektor pertahanan.
Guna
mempertajam pembahasan tentang strategi TNI AU dalam menyikapi tantangan dan
memanfaatkan peluang implementasi AI di sektor pertahanan, lima aspek manajemen
(5M) dapat menjadi bahan kajian yang menarik. Kelima aspek tersebut antara lain
Men atau Manusia, Money atau Uang, Materials atau Bahan, Machines
atau Mesin, dan Methodes atau Metode. Pembahasan kelima aspek manajemen
dapat djelaskan sebagai berikut:
1)
Men atau Manusia. Dalam menghadapi era
digitalisasi dan pertahanan modern, TNI AU menghadapi tantangan signifikan
dalam mengintegrasikan AI ke dalam sistemnya. Keterbatasan kesiapan sumber daya
manusia yang terampil dalam AI menjadi penghambat utama. Tanpa pengetahuan dan
keterampilan yang memadai, implementasi teknologi AI dapat mengalami hambatan,
seperti kesalahan pengoperasian yang berpotensi merugikan atau kegagalan dalam
memanfaatkan sepenuhnya kemampuan AI. Untuk mengatasi hal ini, TNI AU harus
mengadopsi strategi komprehensif yang mencakup pelatihan intensif bagi
personelnya, memastikan mereka dilengkapi dengan pemahaman mendalam tentang AI
dan kemampuannya. Selain itu, perekrutan tenaga kerja yang memiliki keahlian
khusus dalam AI adalah langkah penting untuk memperkuat tim dan mempercepat
integrasi AI. Upaya ini tidak hanya akan meningkatkan efisiensi operasional
tetapi juga memastikan bahwa TNI AU tetap relevan dan kompetitif di panggung
global pertahanan. Dengan demikian, TNI AU tidak hanya meningkatkan kapabilitas
pertahanannya, tetapi juga memastikan bahwa personelnya siap menghadapi
tantangan masa depan dengan keahlian yang relevan dan terkini.
2)
Money atau Uang. Implementasi AI dalam
manajemen militer, khususnya di TNI AU, memang memerlukan investasi yang
signifikan. Namun, potensi pengembalian investasi tersebut sangatlah besar.
Tantangan infrastruktur komputasi dan data yang belum memadai dapat menimbulkan
hambatan dalam pengembangan dan implementasi teknologi AI. Hal ini tidak hanya
berdampak pada penundaan dalam peningkatan efisiensi operasional, tetapi juga
dapat mengakibatkan biaya tambahan yang tidak diantisipasi. Untuk mengatasi
tantangan ini, TNI AU dapat memulai dengan melakukan audit infrastruktur TI
yang ada, mengevaluasi kebutuhan sistem yang akan datang, dan merencanakan
peningkatan bertahap. Selain itu, kolaborasi dengan lembaga riset dan
universitas dapat membantu dalam pengembangan solusi AI yang inovatif dan
efisien biaya. Dengan pendekatan yang terstruktur dan investasi yang bijaksana,
TNI AU dapat mengurangi dampak negatif dari tantangan infrastruktur dan
memanfaatkan sepenuhnya keuntungan yang ditawarkan oleh AI untuk meningkatkan
efisiensi dan efektivitas operasional.
3)
Materials atau Bahan. Dalam konteks TNI
AU, bahan atau data merupakan aset kritikal dalam pengembangan dan
operasionalisasi sistem AI. Tantangan yang dihadapi adalah memastikan
integritas data yang relevan, akurat, dan aman. Data yang tidak tepat dapat
mengakibatkan kegagalan sistem AI, yang berpotensi menimbulkan kerugian
operasional dan strategis. Dampak negatif dari tantangan ini mencakup risiko
keamanan nasional jika data dikompromikan dan kesalahan strategis akibat
analisis data yang tidak akurat. Untuk menghadapi tantangan ini, TNI AU dapat
mengimplementasikan protokol keamanan data yang ketat, melibatkan ahli data
untuk memvalidasi dan memverifikasi dataset, serta melakukan simulasi dan
pengujian ekstensif sebelum penerapan sistem AI secara penuh. Upaya ini akan
memastikan bahwa TNI AU dapat memanfaatkan kekuatan AI dengan efektif sambil
meminimalisir risiko yang terkait.
4)
Machines atau Mesin. TNI AU perlu
mempertimbangkan kapasitas teknologi saat ini dan apa yang mungkin diperlukan
untuk implementasi AI. Dalam konteks modernisasi pertahanan, TNI AU menghadapi
tantangan signifikan dalam membangun infrastruktur komputasi dan data yang
memadai untuk mendukung implementasi sistem AI. Aspek 'Machines' dari
teori manajemen Emerson menjadi sangat relevan, merujuk pada kebutuhan akan
infrastruktur teknologi yang canggih. Tantangan ini tidak hanya melibatkan
pengadaan perangkat keras yang sesuai, tetapi juga memastikan bahwa arsitektur
data dan komputasi dapat mendukung algoritma AI yang kompleks. Dampak negatif
dari keterbatasan ini dapat berupa keterlambatan dalam pengambilan keputusan
strategis dan potensi kerentanan dalam keamanan siber. Untuk mengatasi hal ini,
TNI AU dapat melakukan investasi strategis dalam teknologi cloud computing,
edge computing, dan pusat data yang aman, serta mengembangkan kemitraan
dengan lembaga riset dan industri teknologi. Melalui upaya ini, AI tidak hanya
dapat mengoptimalkan operasi militer tetapi juga meningkatkan kemampuan
analitik dan responsif TNI AU dalam menghadapi ancaman yang dinamis.
5)
Methodes atau Metode. Dalam menghadapi
era digitalisasi yang semakin maju, TNI AU dihadapkan pada tantangan untuk
mengintegrasikan AI dalam operasionalnya. Tanpa regulasi yang jelas, penggunaan
AI bisa menimbulkan risiko etis dan keamanan. Metode yang merujuk pada hukum,
regulasi, etika, prosedur, dan protokol menjadi sangat penting untuk memastikan
bahwa AI digunakan secara bertanggung jawab. Tantangan ini mencakup kebutuhan
untuk melindungi data pribadi, mencegah bias dan diskriminasi oleh algoritma,
serta memastikan transparansi dan akuntabilitas dalam pengambilan keputusan oleh
AI. Dampak negatif dari tantangan ini bisa sangat luas, termasuk kerugian
finansial, kerusakan reputasi, dan bahkan ancaman terhadap keamanan nasional.
Untuk menghadapi tantangan ini, TNI AU perlu mengembangkan kerangka kerja
regulasi yang kuat, yang mencakup pelatihan etis bagi pengembang dan operator
AI, audit dan penilaian risiko yang berkelanjutan, serta mekanisme pengawasan
yang efektif. Dengan demikian, TNI AU dapat memanfaatkan kekuatan AI untuk
meningkatkan efisiensi dan efektivitas operasional, sambil meminimalkan risiko
dan memastikan penggunaan yang etis dan bertanggung jawab.
Hasil pembahasan ini dapat disederhanakan, bahwa
dalam rangka implementasi AI di sektor pertahanan khususnya TNI AU dapat
melaksanakan melalui :
a.
Kolaborasi dan Inovasi: Membangun
kemitraan dengan lembaga riset dan universitas untuk mengembangkan solusi AI
yang inovatif dan efisien biaya.
b.
Pengembangan Kebijakan dan Regulasi.
Mengembangkan kerangka kerja regulasi yang kuat untuk memastikan penggunaan AI
yang etis dan bertanggung jawab.
c.
Peningkatan Infrastruktur. Membangun dan
meningkatkan infrastruktur komputasi dan data yang memadai untuk mendukung
operasional AI.
d.
Pelatihan dan Pengembangan Sumber Daya
Manusia. Investasi dalam pendidikan dan pelatihan intensif untuk memastikan
personel memiliki keterampilan dan pengetahuan yang diperlukan dalam AI.
6.
Penutup.
a.
Simpulan. Berdasarkan hasil pembahasan,
dapat diperoleh simpulan bahwa:
1)
Perkembangan teknologi, khususnya AI, sangat
penting dalam konteks militer modern karena AI dapat meningkatkan efisiensi,
presisi, dan efektivitas operasi militer.
2)
Tantangan utama TNI AU dalam implementasi AI di
sektor pertahanan meliputi kesiapan sumber daya manusia, kesiapan organisasi,
regulasi etis, dan infrastruktur komputasi yang belum memadai. Namun, terdapat
peluang implementasi AI yang dapat dimanfaatkan antara lain mendukung
pengembangan sumber daya manusia, meningkatkan efisiensi dan produktivitas,
mendukung inovasi dan modernisasi peralatan militer, serta menawarkan solusi
infrastruktur.
3)
TNI AU perlu menyusun strategi yang mencakup aspek
kolaborasi dan inovasi, pengembangan kebijakan dan regulasi, peningkatan
infrastruktur, dan pelatihan dan pengembangan sumber daya manusia untuk
mengatasi tantangan dan memanfaatkan peluang implementasi AI di sektor
pertahanan. Aspek-aspek strategi tersebut dapat diwakili melalui slogan KIRIM
yaitu kolaborasi, inovasi, regulasi, infrastruktur, dan manusia.
b.
Rekomendasi. Rekomendasi untuk TNI AU
adalah mengembangkan kerangka kerja yang kuat untuk implementasi AI yang efektif,
efisien, etis dan bertanggung jawab di sektor pertahanan.
7.
Daftar Pustaka.
AFP, S.W.W. 2024. Israel Deploys New
Military AI in Gaza War. The Defense Post.
https://www.thedefensepost.com/2024/02/12/israel-military-ai-gaza/ 11 July
2024.
Bendett, S., Boulègue, M., Connolly, R., Konaev, M., Podvig, P. &
Zysk, K. 2021. Advanced military technology in Russia.
Choudhury, R. 2024. Project Maven: The epicenter of US’ AI military
efforts. Interesting Engineering.
https://interestingengineering.com/military/project-maven-the-epicenter-of-us-ai-military-efforts
11 July 2024.
Dwipratama, G.P. 2024. IMPLIKASI KECERDASAN BUATAN DALAM INDUSTRI
PERTAHANAN : TANTANGAN DAN PELUANG BAGI INDONESIA.
https://www.kemhan.go.id/pothan/2024/03/20/implikasi-kecerdasan-buatan-dalam-industri-pertahanan-tantangan-dan-peluang-bagi-indonesia.html
11 July 2024.
E-Tan, J. 2022. Geopolitik AI: Tiongkok bangkit, AS sebagai alternatif?
– EngageMedia.
https://engagemedia.org/2022/artificial-intelligence-geopolitics/?lang=id 11
July 2024.
Kesmas. 2013. Fungsi Man, Money, Methods,Material, Markets sebagai
Sarana Manajemen. The Indonesian Public Health.
https://www.indonesian-publichealth.com/pengertian-5-m-dalam-manajemen/ 12 July
2024.
Schrepel, •Thibault. 2022. The Not-So-Pathetic Dot Theory. Network
Law Review. https://www.networklawreview.org/not-so-pathetic-dot-theory/ 12
July 2024.