Semoga kita selalu sehat dan dilancarkan semua urusan ya. Aamiin.


Catatan Kecil Intelektualisme tentang Fluida Aerodinamika Mesin Energi Simulasi Komputasi


Assalamu'alaikum wr wb, Sahabat.
Sahabat, pada artikel yang lalu kita telah mempelajari tahap pertama langkah-langkah simulasi numerik menggunakan perangkat lunak CFD. Sahabat bisa refresh kembali materi tersebut dengan klik di sini. Bagaimana, Sahabat? Apabila ada yang ingin dikomentari atau saran silakan tuliskan di dalam kolom komentar ya. Karena saran dan komentar dari Sahabat sangat berharga untuk perbaikan ke depannya.
Artikel kali ini akan menyajikan sedikit informasi tentang langkah simulasi pada tahap processing. Pada tahap ini digunakan sebuah perangkat solver yaitu ANSYS Fluent 2021R1. Perangkat lunak ini juga terintegrasi di paket ANSYS Student dan bisa dijalankan langsung dari Workbench. Solver merupakan perangkat lunak yang akan menghitung atau kalkulasi persamaan diskrit hingga diperoleh solusi yang stabil dan konsisten sehingga dapat dicapai kondisi konvergen. Menurut Hoffman dan Chiang (2000), sebuah skema numerik disebut stabil (stabilitas) apabila error yang muncul pada solusi persamaan differensial hingga tidak bertambah besar. Namun, sebuah skema numerik disebut konsisten (konsistensi) apabila persamaan differensial hingga akan menjadi atau kembali menjadi bentuk persamaan diferensial parsial ketika ukuran grid mendekati nol.
Sahabat, kita sebut saja tahap ini sebagai tahap solving. Pada tahap ini terdapat beberapa parameter solver yang harus diatur. Tentunya pengaturan disesuaikan dengan kebutuhan simulasi dan akan berbeda pada setiap simulasi dan bidang keilmuan ya. Artikel ini akan menyajikan sedikit informasi tentang pengaturan untuk simulasi CFD di bidang aerodinamika yaitu ailiran fluida udara di sekitar model sayap. Baik Sahabat, pengaturan kita awali dari Fluent Launcher. Pada Launcher diatur sebagai berikut 3D, Double Precision dan Display Mesh After Reading. Sebelum dilakukan pengaturan solver lebih lanjut, terlebih dulu dilakukan Mesh Check. Pengaturan umum solver adalah Pressure Based dan Transient. Data Gravity digunakan -9,81 m/s pada kolom y. Model viskos yang digunakan adalah 𝜅-omega SST (2 equations). Sedangkan pengaturan Solution Methods meliputi pengaturan pada PressureVelocity Coupling Scheme digunakan Coupled, pada Spatial Discretization digunakan Least Square Cell Base Gradient, Second Order Pressure, Second Order Upwind Momentum sedangkan pengaturan lainnya digunakan pengaturan standar.
Monitor iterasi berupa Residual Monitors yang terdiri dari continuity, x-velocity, y-velocity, z-velocity, 𝜅 dan omega dengan absolute criteria masing-masing sebesar 0,00001 dan dapat diperkecil untuk menghindari autostop pada jumlah iterasi sedikit. Selain residual monitors, juga digunakan report plot lift coefficient dan report plot drag coefficient untuk mengetahui pengaruh iterasi terhadap perubahan koefisien lift dan drag.
Variasi sudut serang diatur dengan mengubah nilai flow direction pada x-component dan y-component pada velocity inlet sesuai dengan nilai cosine dan sine tiap sudut serang yang diteliti. Sedangkan pengaturan kecepatan inlet dengan mengubah velocity magnitude. Outlet menggunakan pressure-outlet dengan gauge-pressure 0 Pa. Perlu diingat Sahabat, ketika menghitung sudut menggunakan Ms. Office Excel maka angka sudut yang dibaca oleh Ms. Office Excel dalam satuan radian sehingga perlu diubah ke degree untuk inpu ke perangkat lunak Fluent.
Selanjutnya adalah Initialization. Standard Initialization dipilih dengan pengaturan Compute from inlet dan Reference Frame Relative to Cell Zone. Setelah Initialization selesai dilanjutkan pengaturan Calculation Activities. Pengaturan dilakukan dengan mengisikan 1 pada kolom Autosave Every (Time Steps) agar solver menyimpan data tiap selesai melakukan iterasi pada tiap time step. Pada kolom Automatic Export, dapat dibuat Solution Data Export baru dengan tipe CDAT for CFDPost & EnSight agar solver menyimpan seluruh data hasil simulasi untuk memudahkan analisis pada postprocessing. Tanpa pengaturan pada Automatic Export pun, perangkat lunak akan tetap menyimpan data simulasi.
Pada simulasi transient perlu diatur time management agar diperoleh perubahan hasil pada tiap perubahan time step. Apabila diasumsikan flow time 10 detik maka dapat diatur Number of Time Step sebanyak 100 dan Time Step Size selama 0,1 detik. Bisa juga diatur sebagai berikut Number of Time Step sebanyak 1000 dan Time Step Size selama 0,01 detik. Jadi flow time sama dengan hasil perkalian antara number of time step dan time step size. Maximum Iteration/Time Step diatur sesuai kebutuhan dan kemampuan sumber daya komputasi dengan tujuan untuk mendapatkan hasil yang stabil dan konsisten. Dalam artikel ini saya contohkan 20 kali iterasi tiap 1 time step. Pada pengaturan ini, Fluent akan melakukan iterasi total sebanyak 2000 kali atau 20.000 kali yaitu hasil perkalian antara number of time step dan max iteration/time step. Cara menghitungnya cukup mudah bukan? Pengaturan lainnya menggunakan pengaturan standar dari ANSYS Fluent 2021R1. Konvergen akan tercapai apabila Residual Monitors menunjukkan grafik telah mencapai nilai Absolute Criteria atau cenderung stabil pada nilai tertentu dan grafik pada report plot lift coefficient dan report plot drag coefficient juga cenderung stabil pada nilai tertentu. Kriteria konvergensi dan diskritisasi akan saya sajikan pada artikel selanjutnya. Selanjutnya untuk mempermudah pemahaman, rangkuman pengaturan solver saya tampilkan dalam bentuk tabel. Semoga dapat membantu.
Assalamualaikum wr wb, Sahabat.
Computational Fluid Dynamic atau dikenal dengan istilah CFD tentu sudah tidak asing lagi di telinga kita. Utamanya bagi Sahabat yang berminat meneliti di bidang simulasi dan analisis numerik. Sejatinya CFD mengubah bentuk persamaan intergral atau differensial parsial yang rumit menjadi bentuk persamaan aljabar yang lebih sederhana. Persamaan aljabar yang diperoleh akan diselesaikan hingga mendapatkan solusi berupa nilai medan aliran pada titik diskrit dalam ruang dan waktu tertentu. Sebelum membaca tulisan ini lebih lanjut, ada baiknya Sahabat membaca artikel sebelumnya yaitu selayang pandang tentang CFD di sini.
Sahabat, tulisan kali ini akan berbagi informasi tentang bagaimana langkah-langkah melakukan simulasi CFD khususnya menggunakan perangkat lunak ANSYS Student 2021R1. Tentu Sahabat sudah mengenal perangkat lunak yang powerfull ini kan. Meskipun hanya versi student/academic, perangkat lunak ini sudah cukup lengkap dan layak digunakan untuk simulasi. Perangkat lunak ANSYS Student telah mengintegrasikan berbagai jenis perangkat lunak untuk simulasi di berbagai bidang keilmuan antara lain Mechanical, CFD, Fisika, Kimia dan lain-lain. Pengguna akan dimudahkan dengan adanya integrasi tersebut. Sebagai contohnya pada analisis numerik di bidang CFD, pengguna dapat menggunakan Workbench untuk menyusun skema simulasi yang dibutuhkan mulai dari desain geometri objek penelitian, proses meshing, solving hingga pengolahan data hasil penelitian berupa gambar dan angka. Dari Workbench, pengguna dapat langsung memilih dan membuka perangkat lunak yang dibutuhkan untuk simulasi dari awal (preprocessing) hingga akhir proses (postprocessing). Menurut informasi dari halaman website resmi ANSYS, perangkat ini sudah digunakan untuk keperluan pendidikan dan penelitian oleh banyak universitas atau akademi di berbagai negara di dunia. Sudah cukup terpercaya bukan? Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa terdapat keterbatasan dalam versi student ini yaitu perangkat lunak Fluent yang terintegarsi hanya mampu memproses simulasi objek dengan maksimum jumlah elemen mesh sebanyak 512.000 elemen saja. Selain itu, minimum hardware requirement atau spesifikasi komputer untuk menjalankan perangkat lunak ANSYS Student cukup tinggi yaitu membutuhkan Processor(s): Workstation class, 4 GB RAM, 25 GB hard drive space dan lain-lain. Sahabat bisa membaca data lengkapnya di website resmi ANSYS di sini. Pengalaman saya menggunakan minimum hardware requirement, perangkat lunak dapat dijalankan namun saya merasa kurang nyaman. Demi meningkatkan kenyamanan saat simulasi saya upgrade RAM dan Alhamdulillah perangkat lunak bisa dijalankan dengan mulus dan lancar jaya. :)
Seperti layaknya penelitian ekperimental, variabel-variabel yang akan diteliti harus ditentukan terlebih dulu sebelum melakukan simulasi. Variabel-variabel inilah yang akan menjadi parameter masukan dan parameter hasil pada simulasi. Kita ambil satu contoh kasus pada sebuah studi numerik tentang pengaruh vortex generator terhadap performa aerodinamika sayap pesawat terbang.
Perangkat Lunak
|
NO |
TAHAPAN |
PERANGKAT LUNAK |
|
|
1. |
Operating System |
Windows 10 Pro 64bit |
|
|
2. |
Preprocessing |
CAD 3D Technical Drawing |
ANSYS Workbench 2021R1 ANSYS Design Modeller 2021R1 ANSYS Space Claim 2021R1 |
|
Meshing |
ANSYS Meshing 2021R1 |
||
|
3. |
Processing |
Komputasi |
ANSYS Fluent 2021R1 |
|
4. |
Postprocessing |
Data dan Visualisasi |
ANSYS CFD-Post 2021R1 |
|
5. |
Word Processing |
Microsoft Office 2019 |
|
Perangkat Keras
|
c |
JENIS PERANGKAT |
NAMA PERANGKAT |
|
1. |
Jenis Komputer |
Laptop HP model 14- bs007TX |
|
2. |
Processor |
Intel(R) Core(TM) i5-7200U CPU @
2.50GHz, 2712 Mhz, 2 Core(s), 4 Logical Processor(s) |
|
3. |
Motherboard |
HP 831F 17,42 |
|
4. |
RAM |
4,00 GB + 8,00 GB DDR4 |
|
5. |
Render |
AMD Radeon (TM) R5 M330 4GB |
|
6. |
Storage |
HDD 1TB |
|
7. |
Cooling System |
Casing Fan |
|
8. |
Power Supply Unit |
HP 65W AC Adapter Unit |
Sahabat, spesifikasi perangkat keras pada tabel tersebut sebagai referensi saja. Semakin tinggi spesifikasi perangkat keras maka perangkat lunak ANSYS akan semakin lancar dan nyaman pada saat digunakan simulasi. Tentunya proses diskritasi, solving dan akurasi hasil simulasi dapat dicapai dengan lebih optimal.
Objek simulasi berupa sayap dan vortex generator dapat dibentuk dari koordinat airfoil yang diunduh dari website www.airfoiltools.com. Setelah terbentuk geometri 2D airfoil dapat dilanjutkan dengan menggambar 3D sayap dan vortex generator. Perangkat lunak Design Modeller yang terintegrasi dengan ANYS Student bisa digunakan menggambar geometri 2D dan 3D. Pada contoh kasus ini akan ditampilkan airfoil NACA2412 (sebagai sayap) dan airfoil NACA0012 (sebagai vortex generator). Setelah geometri terbentuk, dapat dibuat gambar teknik menggunakan perangkat lunak SpaceClaim.
Menurut Anderson (1995), komputasi dinamika fluida merupakan seni untuk mengganti bentuk integral atau persamaan diferensial parsial suatu kasus menjadi bentuk aljabar yang terdiskritisasi. Kemudian bentuk aljabar tersebut diselesaikan untuk mendapatkan angka yang menunjukkan nilai medan aliran pada titik diskrit dalam ruang dan waktu tertentu. Hasil akhir komputasi dinamika fluida berupa kumpulan angka yang mendekati hasil dari analisis secara analitik. Komputasi dinamika fluida dapat digunakan untuk memecahkan permasalahan medan aliran aerodinamika yang komplek dengan menyelesaikan persamaan nonlinier kontinuitas, momentum (persamaan Navier-Stokes) dan energi.
Kundu (2010) menjelaskan bahwa permasalahan aliran fluida diselesaikan dengan komputasi dinamika fluida melalui tiga tahapan antara lain, sebagai berikut :
a. Preprocessing. Tahap ini merupakan awal untuk melakukan analisis dengan membuat model geometri tiga dimensi (3D) pesawat menggunakan perangkat lunak Computer Aided Design. Setelah gambar model 3D siap, maka dilanjutkan pembuatan grid atau meshing. Grid dibuat pada permukaan gambar model dan domain komputasi serta disesuaikan dengan boundary condition yang digunakan.
b. Flow solving. Geometri model 3D yang telah dibuat pada tahap preprocessing akan dipindahkan ke perangkat lunak solver. Proses dilanjutkan dengan mengatur boundary condition dan initial condition. Perangkat lunak solver diatur sedemikian rupa untuk mendapatkan kondisi simulasi fluida yang paling mendekati kondisi fluida sebenarnya. Setelah pengaturan selesai dilanjutkan inisialisasi dan menjalankan komputasi pada perangkat lunak solver. Hasil yang optimal akan diperoleh setelah komputasi selesai melakukan iterasi sesuai pengaturan. Apabila dibutuhkan hasil yang lebih baik, dapat dilakukan komputasi ulang dengan memperbaiki pengaturan pada solver maupun grid pattern pada model 3D.
c. Postprocessing. Setelah perangkat lunak solver selesai melakukan komputasi maka hasil komputasi dapat diproses lebih lanjut dan dianalisis. Hasil komputasi dapat divisualisasikan ke dalam bentuk gambar, kurva maupun animasi sesuai kebutuhan analisis. Pada tahap ini bisa diketahui berbagai parameter antara lain Cp distribution, pressure contours, streamlines, velocity patterns, CL, CD, CL/CD atau parameter lain yang ditentukan oleh pengguna.
Chapman (1979) menyimpulkan tiga hal tentang komputasi dinamika fluida antara lain :
a. Eksperimen tidak dapat merepresentasikan kondisi tebang yang sebenarnya karena adanya keterbatasan sifat aliran fluida yang digunakan.
b. Semakin besar terowongan angin maka akan membutuhkan energi yang semakin besar pula.
c. Komputasi dinamika fluida lebih cepat dan lebih murah daripada eksperimen untuk mendapat hasil penelitian yang diharapkan.
Perangkat lunak ANSYS Student 2021R1 akan digunakan dalam beberapa tahap antara lain tahap preprocessing, flow solving dan postprocessing. Perangkat lunak ini dipilih karena sesuai dengan yang diberitakan dalam website resminya bahwa perangkat lunak ANSYS Student 2021R1 sudah dilengkapi dengan perangkat lunak ANSYS Workbench 2021R1 yang mengintegrasikan beberapa perangkat lunak antara lain ANSYS DesignModeler, ANSYS SpaceClaim dan ANSYS Meshing untuk preprocessing, ANSYS Fluent untuk flow solving dan ANSYS CFD-Post untuk postprocessing. Perangkat lunak yang terintegrasi sudah mencukupi untuk melakukan analisis komputasi. Perangkat lunak ini juga layak digunakan untuk komputasi menggunakan komputer atau laptop dengan sumber daya perangkat keras minimal Processor(s): Workstation class, 4 GB RAM, 25 GB hard drive space, Computer must have a physical C:/” drive present, Graphics card and driver: Professional workstation class 3-D dan OpenGL-capable. Namun, perangkat lunak ANSYS Student 2021R1 memiliki keterbatasan analisis untuk komputasi fluida yaitu hanya mampu menganalisis hasil meshing maksimum 512.000 cells (elements) atau nodes.
PREPROCESSING
Tahap preprocessing meliputi penyiapan geometri domain komputasi dan pembuatan mesh. Domain komputasi terdiri dari domain solid berupa objek (sayap) dan domain fluida berupa enclosure dibuat menggunakan perangkat lunak CAD. Domain sayap dibuat dengan menggambar model 3D airfoil dari data titik koordinat airfoil yang diperoleh dari airfoil NACA 4 digits generator menggunakan perangkat lunak ANSYS DesignModeller 2021R1. Enclosure dibuat dengan menggunakan perangkat lunak yang sama setelah model sayap 3D selesai. Enclosure merupakan domain fluida untuk mengkondisikan lingkungan sekitar model sayap saat dilakukan simulasi atau komputasi. Setelah enclosure selesai, dilanjutkan proses Boolean. Proses boolean meliputi unite, substract, intersect, imprint face. Unite merupakan perintah untuk menggabungkan beberapa objek menjadi satu objek. Substract berfungsi memotong objek dengan objek lainnya. Urutan pemilihan objek akan sangat mempengaruhi hasil substract. Intersect digunakan untuk membuat irisan dari dua objek. Urutan pilihan objek pada intersect tidak mempengaruhi hasil. Imprint face berfungsi untuk membuat tanda di permukaan bodi yang sedang aktif.
Tahap preprocessing selanjutnya adalah pembuatan mesh sering disebut meshing atau gridding. Perangkat lunak yang digunakan adalah ANSYS Meshing 2021R1. Meshing merupakan proses membagi domain komputasi menjadi bagian-bagian kecil berupa elements dan nodes atau diskritisasi agar dapat diselesaikan secara numerik oleh perangkat lunak solver. Semakin kecil ukuran elemen mesh maka hasil komputasi akan semakin akurat. Namun akan memperberat beban kerja komputer dan butuh waktu lebih lama sehingga dibutuhkan sumber daya perangkat keras yang lebih tinggi dibandingkan menganalisis elemen mesh berukuran lebih besar.
Beberapa tipe mesh antara lain mesh volume, mesh bidang dan mesh garis. Mesh volume digunakan untuk diskritisasi pada volume model 3D. Mesh bidang digunakan untuk diskritisasi pada bidang 2D sedangkan mesh garis untuk diskritisasi pada garis. Guna mendapatkan mesh yang tepat, terlebih dulu perlu dipahami tujuan simulasi dan parameter yang diteliti. Pada simulasi yang melibatkan pengamatan lapis batas dan pemisahan aliran maka pembuatan mesh dioptimalkan pada lokasi domain yang dekat dengan permukaan objek. Berdasarkan User’s Guide ANSYS Meshing 2021R1, beberapa teknik meshing yang dapat digunakan antara lain Multizone, Body Sizing, Face Sizing dan Inflation. Metode Multizone dapat membentuk mesh heksagonal dan mengubah bentuk mesh tetragonal menjadi heksagonal pada daerah-daerah tertentu sehingga mesh heksagonal atau swept mesh akan terbentuk pada daerah structured sedangkan free mesh akan terbentuk pada daerah unstructured. Body sizing digunakan untuk mendefinisikan ukuran mesh secara global sedangkan Face Sizing mendefinisikan ukuran mesh secara lokal misalnya pada sayap yang merupakan domain solid pada suatu domain kompuasi. Inflation berguna untuk meningkatkan resolusi boundary layer pada komputasi dinamika fluida. Pada proses Inflation terdapat beberapa pilihan, salah satunya adalah First Layer Thickness dan dapat diatur First Layer Height untuk mendefinisikan tinggi lapisan inflasi pertama.
Tahap selanjutnya adalah pendefinisian bidang. Definisi yang utama diberikan pada bidang enclosure antara lain inlet, outlet, symmetry dan object. Inlet didefinisikan sebagai arah datangnya aliran fluida yaitu enclosure face yang berada di depan leading edge, bagian bawah dan samping (wing tip) model sayap. Outlet didefinisikan sebagai arah keluarnya aliran yaitu pada enclosure face yang berada di bagian atas model sayap dan belakang trailing edge model sayap, symmetry didefinisikan pada enclosure face yang menempel pada bagian penampang airfoil model sayap sebagai wing root dan object didefinisikan pada model 3D sayap.
Sebelum masuk ke perangkat lunak solver, kualitas hasil mesh harus diperiksa terlebih dulu untuk mengetahui apakah hasil meshing sudah memenuhi standar kualitas dari ANSYS. Pemeriksaan hasil mesh mengacu pada kualitas skewness dan orthogonal quaility. Mesh yang tidak direkomendasikan adalah mesh yang memiliki orthogonal quality rendah dan skewness yang tinggi.
FLOW SOLVING
Pada tahap flow solving, sebelum dilakukan inisialisasi dan run calculation akan diatur terlebih dulu kondisi lingkungan simulasi agar mendekati kondisi lingkungan sebenarnya menggunakan ANSYS Fluent 2021R1 . Tahap flow solving terdiri dari menentukan tipe solver, menentukan formulasi solver, menentukan model dan persamaan dasar.
a. Tipe solver.
Terdapat dua pilihan solver pada ANSYS Fluent 2021R1 yaitu single precision dan double precision. Secara umum pilihan single precision untuk solver sudah cukup akurat dalam menyelesaikan berbagai kasus. Double precision digunakan untuk menyelesaikan kasus yang lebih komplek dengan melibatkan beberapa macam objek. Apabila sumber daya perangkat keras mendukung maka dapat digunakan double precision untuk menyelesaikan semua kasus.
b. Formulasi solver.
Formulasi solver berguna untuk menghasilkan solusi yang akurat. Pemilihan solver yang tepat akan mempercepat proses memperoleh hasil komputasi. Formulasi solver segregated dan coupled di dalam perangkat lunak ANSYS Fluent 2021R1 mempunyai perbedaan cara penyelesaian persamaan kontinyuitas, momentum dan energi. Solver segregated menghitung solusi persamaan secara bertahap dan terpisah antara persamaan satu dengan yang lainnya. Kasus dengan fluida inkompresibel dan kompresibel dengan kecepatan rendah Mach < 1 dapat diselesaikan dengan solver segregated.
Berbeda dengan solver segregated, solver coupled menghitung solusi semua persamaan secara bersamaan dan didesain untuk menyelesaikan kasus fluida kompresibel dengan dengan kecepatan tinggi Mach ≥ 1. Solver coupled terdiri dari dua jenis antara lain coupled explicit dan coupled implicit. Perbedaan kedua solver coupled ini terletak pada cara melinierkan persamaan-persamaan yang akan diselesaikan.
c. Model aliran dan persamaan dasar.
Pilihan model aliran dan persamaan dasar yang digunakan ANSYS Fluent 2021R1 antara lain model persamaan energi dan model viskos.
i. Model persamaan energi.
Model ini digunakan untuk menyelesaikan kasus yang melibatkan analisis temperatur, perpindahan panas dan radiasi.
ii. Model viskos.
Model viskos ditentukan berdasarkan jenis aliran fluida yang disimulasikan berupa aliran laminar atau turbulen dengan menghitung bilangan Reynolds. Kasus aliran laminar dapat diselesaikan dengan model viskos inviscid dan laminar. Kasus aliran turbulen ditandai dengan adanya fluktuasi medan kecepatan yang menyebabkan fluktuasi pada besaran momentum, energi dan konsentrasi partikel. Menurut Tuakia (2008) terdapat beberapa pilihan model viskos untuk kasus aliran turbulen antara lain :
a) Model Detached Eddy Simulation.
Model ini merupakan modifikasi model Spalart-Allmaras sekaligus menjadi alternatif untuk model Large Eddy Simulation dalam memprediksi aliran dengan bilangan Reynolds yang besar.
b) Model Spalart-Allmaras.
Model ini hanya menggunakan satu persamaan untuk menyelesaikan persamaan transport untuk viskositas kinematik turbulen. Meskipun didesain khusus untuk aplikasi dunia penerbangan, model ini belum teruji untuk semua jenis aliran kompleks.
c) Model κ-omega (κ-ω).
Model ini disebut juga κ-ω standard. Model κ-ω standard berusaha memprediksi turbulensi dengan dua persamaan diferensial parsial menggunakan dua variabel yaitu energi kinetik turbulensi (κ) dan tingkat disipasi spesifik (ω). Dibuat berdasarkan model Wilcox κ-omega yang memasukkan beberapa modifikasi untuk menghitung efek aliran pada bilangan Reynolds rendah, kompresibilitas dan penyebaran aliran geser (shear flow). Model ini dapat digunakan pada simulasi aliran dalam saluran maupun aliran bebas geseran (free shear flow).
d) Model κ-omega SST (κ-ω SST ).
SST merupakan singkatan dari shear stress transport. Model ini dikembangkan oleh Menter dengan menggabungkan formulasi κ-ω standard yang akurat dan stabil pada daerah di dekat dinding dengan formulasi κ-ε yang memiliki kelebihan menyelesaikan kasus free stream. Model κ-ω SST memiliki kelebihan dibandingkan dengan κ-ω standard, antara lain :
i) Model κ-omega standar dan κ-epsilon yang telah diubah dikalikan dengan suatu fungsi percampuran dan kedua model digunakan bersama-sama, sehingga lebih akurat untuk daerah di dekat dinding maupun aliran yang jauh dari dinding dan free stream flow.
ii) Definisi viskositas turbulen dimodifikasi untuk menghitung transport dari tegangan geser turbulen.
iii) Konstanta model berbeda dengan model κ-omega standar dan melibatkan sebuah besaran dari penurunan damped coss diffusion pada persamaan omega.
e) Model κ-epsilon (κ-ε).
Model ini sering digunakan pada simulasi aliran fluida dan perpindahan kalor karena menggunakan dua persamaan yang memungkinkan length scales dan turbulent velocity ditentukan secara terpisah. Model κ-epsilon dikembangkan oleh Launder dan Spalding sebagai model semi empiris.
f) Model Reynolds Stress (RSM).
Model yang paling teliti adalah RSM karena melakukan pendekatan terhadap persamaan Navier-Stokes (Reynolds-averaged) dengan menyelesaikan persamaan transport untuk tegangan Reynolds bersama-sama dengan persamaan laju disipasi. RSM dapat memberikan prediksi yang lebih akurat untuk aliran kompleks karena RSM menghitung efek dari kurva streamline, swirl, rotation dan perubahan yang tiba-tiba dengan lebih teliti dibandingkan model lainnya. Namun, RSM tidak selalu memberikan hasil yang lebih baik daripada model lainnya yang menggunakan satu atau dua persamaan pada semua jenis aliran dengan proses komputasi yang berat.
POSTPROCESSING
Komputasi Dinamika Fluida tidak berhenti pada tahap solving atau simulasi aliran fluida saja. Namun, hasil simulasi dari solver perlu ditampilkan ke dalam bentuk visualisasi tertentu agar memudahkan proses analisis penelitian. Pada tahap postprocessing inilah hasil simulasi dari solver akan divisualisasikan dan dianalisis. Hasil simulasi solver akan ditampilkan melalui visualisasi interaksi aliran fluida dengan media yang dilaluinya. Dari visualisasi vector plots dan streamlines hingga visualisasi vortex cores dan animasi aliran dapat ditampilkan ke dalam bentuk dua dimensi maupun tiga dimensi berupa gambar, grafik dan animasi sehingga dapat dianalisis secara kualitatif maupun kuantitatif.
Demikian tulisan ini saya akhiri, Sahabat. Saya sangat terbuka terhadap masukan, saran dan kritik dari Sahabat demi kebaikan di masa mendatang. Sampai ketemu di artikel selanjutnya, Sahabat. Semoga sehat selalu.
Oleh: Prof. Holger Babinsky-University of Cambridge
Aliran fluida di sepanjang streamline lurus (straight streamline).
Aliran Ditinjau
sejumlah situasi aliran dan akan diamati apakah tekanan pada semua sisi
partikel fluida adalah sama atau tidak? Bila semua tekanan sama maka tidak ada
gaya dan hasilnya adalah kita tidak punya akselerasi/percepatan yang berarti
bahwa partikel fluida bergerak pada garis lurus dengan kecepatan konstan.
Namun, karena berbagai alasan akan terdapat gaya tekanan sebab adanya tekanan
yang tidak sama pada semua sisi partikel. Berdasarkan hukum Newton, akan muncul
akselerasi. Inilah rahasia dibalik dinamika fluida.
Prinsip Bernoulli tidak tepat digunakan untuk menjelaskan terbentuknya lift karena prinsip Bernoulli valid untuk aliran pada 1 streamline yang sama, sedangkan terbentuknya lift merupakan akibat dari aliran dengan streamline yang berbeda-beda di bagian atas dan bagian bawah airfoil.
Pada aliran
fluida di curved streamline harus ada sesuatu yang menjadi centripetal force agar
lintasan aliran tetap melengkung atau berpusat pada 1 titik. Sesuatu itu adalah
perbedaan tekanan di bagian luar dan bagian dalam lintasan. Tekanan di bagian
luar lengkungan harus selalu lebih tinggi daripada tekanan di bagian dalam
lengkungan. Maka akan terjadi perbedaan tekanan (pressure drop) dan
kecenderungan menekan partikel (akselerasi) ke arah titik pusat. Apabila tidak
ada gaya centripetal ini, maka partikel akan bergerak lurus. Menurut
Babinsky, Apabila partikel bergerak sepanjang curved streamline
maka tekanan di luar kurva streamline (P_outside) harus lebih besar daripada tekanan di dalam kurva streamline
(P_inside).
Disimpulkan bahwa pada aliran streamline yang tidak lurus (curved streamline) kemudian terdapat pressure gradient pada kedua sisi kurvatur (outside dan inside kurvatur) atau terdapat pressure gradient yang menyeberangi (accross) arah streamline maka tekanan di luar kurvatur (P_outside) akan selalu lebih besar daripada (P_inside). Semakin banyak curved streamline yang terbentuk maka akan semakin rendah tekanan di titik pusat pusaran. Dapat diamati pada aliran vortex, tekanan di sisi luar lebih besar daripada tekanan bagian dalam sehingga semakin mendekati pusat vortex maka tekanan akan semakin turun dan tekanan di titik pusat bisa menjadi sangat rendah. Itulah sebabnya pusaran seperti tornado akan menghisap benda-benda menuju ke titik pusatnya.
Coanda Effect
Streamline akan menempel pada permukaan kurvatur benda dan mengaliri sepanjang kurvaturnya karena terjadi perbedaan tekanan accross streamline. Semakin ke dalam maka tekanan semakin turun.
Penjelasan Alternatif Untuk Lift
Pada bagian atas
airfoil, tekanan akan menurun dari tekanan atmosfer menuju ke upper surface
airfoil. Namun pada bagian bawah airfoil, tekanan akan meningkat dari tekanan
atmosfer menuju lower surface airfoil. Maka tekanan pada lower surface airfoil
akan lebih besar daripada tekanan pada upper surface airfoil dan terbentuklah
pressure difference dan terjadi lift.
Apa sebenarnya yang menyebabkan timbulnya lift?
Fakta bahwa kita
telah menempatkan suatu bentuk ke dalam aliran fluida yang telah memperkenalkan
kurvatur ke dalam streamline dan kurvatur ini hampir sama di kedua sisinya dan
bahwa pengenalam kurvatur itulah yang menimbulkan lift.
Pada kajian numerik dua buah airfoil yang memiliki kurvatur bagian atas yang sama namun memiliki ketebalan yang berbeda (thick and thin airfoil). Pola aliran fluida pada bagian atas airfoil adalah identik karena kedua airfoil itu memiliki kurvatur permukaan bagian atas yang sama. Pada bagian atas airfoil juga terjadi menunjukkan penurunan tekanan ketika semakin mendekati permukaan airfoil. Namun, pola aliran fluida pada bagian bawah airfoil menunjukkan perbedaan antara kedua airfoil itu. Pada airfoil yang tipis menunjukkan kurvatur aliran yang menghasilkan tekanan semakin tinggi ketika semakin mendekati permukaan bagian bawah airfoil sehingga menghasilkan perbedaan tekanan yang tinggi antara bagian bawah dan bagian atas permukaan. Pada airfoil yang lebih tebal, terdapat kurvatur yang melengkung ke bawah sehingga menimbulkan tekanan yang menurun. Kurvatur ini menyebabkan tekanan di bagian bawah airfoil tebal menjadi lebih rendah daripada bagian bawah airfoil tipis. Oleh sebab itu, airfoil yang tipis dapat menghasilkan lift lebih besar daripada airfoil yang lebih tebal. Airfoil tebal dimaksudkan untuk mendukung kekuatan struktur sayap pada pesawat dan menjadi ruangan tanki fuel pesawat. Namun, apabila hanya mengutamakan efisiensi aerodinamika atau koefisien lift tentu airfoil tipis menjadi pilihan yang tepat.
Pada airfoil dengan angle of attack (AoA) yang lebih tinggi dapat meningkatkan lift. Pada kenaikan AoA yang kecil tidak terjadi perubahan signifikan pada kurvatur aliran di bagian atas dan bagian bawah airfoil dan tidak berpengaruh signifikan terhadap lift. Pada prinsipnya semakin tinggi AoA maka lift akan semakin tinggi juga. Semakin tinggi AoA akan mencapai nilai AoA tertinggi di mana aliran tiba-tiba tidak mengikuti kurvatur permukaan lagi dan terpisah dengan permukaan yang disebut separasi aliran. Separasi aliran menyebabkan kehilangan lift dan terjadi stall.
Spinning ball
dapat dijelskan dengan Magnus effect.
RANGKUMAN
1. Penjelasan tentang jarak adalah salah.
2. Prinsip Bernoulli adalah hukum kedua
Newton untuk aliran di sepanjang 1 buah streamline.
3. Curved streamline (streamline yang
melengkung) menyebabkan terjadinya variasi tekanan.
Lift disebabkan oleh kurvatur aliran.
Kajian singkat Prinsip Bernoulli, Coanda Effect dan Hukum Ketiga Newton
Bagaimana wing menghasilkan lift?
Teknologi airfoil membantu manusia terbang. Turbin angin, turbin gas dan mesin hidraulik semuanya bekerja berdasarkan prinsip airfoil. Kajian singkat ini akan menjelaskan fenomena alam di balik bentuk sederhana yang sudah dikemabngkan di dunia teknik.
Apakah lift force?
Sebuah airfoil menghasilkan lift ketika fluida mengalir melewatinya, tapi apakah sumber lift tersebut? Apakah prinsip Bernoulli atau hukum ketiga Newton atau keduanya yang dapat menjelaskan terbentuknya lift? Banyak buku referensi yang mengacu pada teori prinsip Bernoulli, tapi banyak orang yang menolak teori tersebut. Orang yang menolak teori tersebut termasuk ilmuwan NASA dan Prof. Holger Babinsky dari Universitas Cambridge. Prof Babinsky membuktikan secara terori dan secara eksperimen lewat video youtubenya bahwa equal time argument (prinsip Bernoulli) adalah tidak benar. Pada kajian ini akan dilakukan pendekatan secara rasional dan mengunakan CFD serta menggunakan eksperimen sederhana.
PRINSIP BERNOULLI
COANDA EFFECT
HUKUM KETIGA
NEWTON TENTANG GERAK
Apakah ada hukum alam
yang fundamental yang dapat menjelaskan lift selain penjelasan berdasarkan
mekanika fluida? Ya- yaitu hukum ketiga Newton. Kita telah mengetahui
bahwa airfoil membelokkan aliran fluida atau mendorong aliran ke arah bawah.
Jadi berdasarkan hukum ketiga Newton, udara juga mendorong airfoil ke arah yang
berlawanan dengan kekuatan sama besar. Fenomena ini menghasilkan lift. Dapat
disimpulkan bahwa pembelokan atau melengkungnya aliran fluida yang
disebabkan oleh Coanda effect menghasilkan lift.
1. Judul . Menyikapi Distraksi Artificial Intelligence Pada Gen Z Dalam Rangka Mewujudkan Ketahanan Nasional Yang Kuat. 2. Variabel . ...