Terdapat fenomena menarik ketika kita tinjau lebih jauh tentang ilmu pengetahuan di balik airfoil. Mengapa udara di bagian atas airfoil mengalir lebih cepat daripada udara di bagian bawah? Bagaimana bisa kedua aliran itu tidak pernah bertemu? Jawabannya adalah pressure gradient. Sebelum kita tinjau lebih jauh, kita bahas dulu bagaimana pressure gradient terbentuk.
Kita sudah mempelajari bahwa aliran akan melengkung atau berbelok mengikuti kurvatur permukaan karena adanya Coanda Effect. Kita bisa menjelaskan distribusi tekanan dengan menganut prinsip bahwa tekanan aliran udara yang melengkung (curved flow) adalah lebih tinggi di bagian luar (di bagian conveks).
KURVATUR ALIRAN
PREDIKSI
DISTRIBUSI TEKANAN BERDASARKAN KURVATUR ALIRAN
Diketahui
bahwa jauh dari upstream dan downstream, tekanan udaranya adalah
tekanan atmosfer. Pada sekitar leading edge airfoil, terbentuk daerah
bertekanan tinggi ketika aliran menabrak leading edge (stagnation point)
sehingga kita dapat dengan mudah mengilustrasikan distribusi tekanan itu. Hasil
CFD juga menunjukkan hasil yang sama dengan kesimpulan logis kita.
Kembali
ke pembahasan awal. Untuk menyederhanakan analisis, kita dapat mengabaikan
penurunan tekanan yang sangat kecil ini (very small drop in pressure).
Bisa kita lihat bahwa pada bagian atas, tekanan yang berkurang hampir sampai di
daerah tengah-tengah airfoil sebelum tekanan itu meningkat lagi. Pada bagian
bawah, tekanan tetap bertambah sampai dengan daerah trailing edge. Setelah
melewati trailing edge, tekanan mulai menurun lagi.
VARIASI
KECEPATAN BERDASARKAN DISTRIBUSI TEKANAN
Kita
tinjau 2 partikel fluida mulai bergerak dengan kecepatan yang sama tapi
pressure gradient yang berbeda. Partikel di bagian atas dikelilingi oleh
kondisi tekanan yang berkurang, sedangkan pertikel di bagian bawah berada pada
kondisi tekanan yang meningkat. Untuk partikel di bagian atas, tekanan di
sebelah kanannya lebih rendah daripada tekanan di sebelah kirinya. Maka akan
muncul net force (resultan gaya) yang searah dengan arah kecepatan
sehingga kecepatan partikel meningkat. Namun, terjadi kebalikan fenomena pada
partikel di bagian bawah. Di sini net force berlawanan dengan arah
kecepatan partikel sehingga partikel akan melambat. Disimpulkan bahwa pada medan
tekanan yang semakin berkurang, kecepatan partikel fluida
akan meningkat dan pada medan tekanan yang semakin meningkat,
kecepatan partikel fluida akan melambat
Fenomena
ini juga terjadi pada airfoil. Partikel di bagian bawah akan tetap melambat.
Partikel di bagian atas akan bertambah cepat sampai dengan titik tengah. Hal
ini berarti kecepatan partikel di bagian atas akan semakin bertambah cepat di
setiap titik di setiap waktu dan kedua partikel tidak akan bertemu.
Partikel di bagian bawah juga mengalami skenario penurunan tekanan yang terjadi
setelah partikel melewati trailing edge dan penurunan ini terjadi secara
tiba-tiba. Seperti halnya penurunan tekanan yang tiba-tiba dianggap tidak
meningkatkan kecepatan partikel.
Pada
kasus ini, distribusi tekanan menyebabkan partikel mengalir
dengan kecepatan berbeda, tapi argumen kebalikannya
tidak bisa digunakan. Dengan kata lain bahwa perbedaan kecepatan
partikel bukanlah penyebab distribusi tekanan. Alasannya adalah karena
tidak ada penjelasan logis untuk apa yang telah menyebabkan perbedaan kecepatan.
Kedua argumen yang berkebalikan ini bukanlah 2 cara yang berbeda untuk
memandang 1 hal yang sama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar